Pemasaran : Harjasari, Jl. Rulita II RT 03 RW 02, Kecamatan Bogor Selatan - Kota Bogor wa: 0817-0711-072, 0878-2521-0791
Jejak Islam di Nusantara
Seorang seniman yang terseret ke dalam dunia pendidikan kemudian mendedikasikan diri pada pergulatan Dakwah Islam Ideologis,
8 PERKARA HIDUP
8 PERKARA YANG HARUS DIHINDARI
Pada suatu hari Nabi Muhammad Saw pernah mengajarkan Doa
yang masyhur pada seorang pemuda bernama Abu Umamah radhiallahu 'anhu (RA) yang sedang
termenung di dalam masjid dan raut wajah nya menunjukan duka yang dalam.
Setelah ditanya oleh Rasulullah Saw. berceritalah
pemuda itu bahwa dirinya tengah bersusah hati karena dililit hutang.
Maka Rasulullah Saw. mengajarinya doa seperti dibawah
ini:
الّلهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
وَ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ
وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرّجَالِ
Artinya : “Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari kesusahan dan kedukaan, aku berlindung kepada-Mu dari lemah dan
malas, aku berlindung kepada-Mu dari takut (miskin) dan bakhil, aku berlindung
kepada-Mu dari banyaknya hutang dan paksaan orang-orang”
Dari doa tersebut diatas Rasulullah mengajarkan pada kita bahwa ada delapan perkara yang membuat manusia tidak bahagia dalam hidup nya, yaitu :
1. Kesusahan
2. Kedukaan
3. lemah
4. malas
5. Pengecut
6. Bakhil, senang menumpuk harta dan berat sekali bersedekah
7. Berhutang
8. Bearada dalam paksaan/penguasaan orang-orang
Agar kitapun terhindar dari delapan perkara yang tidak menguntungkan seperti diatas, maka sangat baik bila kita baca doa tersebut diatas setiap hari sehabis sholat 5 waktu, sebanyak satu atau tiga kali agar lebih segera terkabul.
Semoga Allah Swt. Melindungi kita dari segala
kesusahan karena terlilit hutang ataupun dari segala sifat-sifat buruk yang akan
menjauhkan kita dari Rahmat Allah Swt. Aamiin ya mujibuddu’a
Wallahu ‘alam bishshawab.
Gugunung, Tapos-Ciawi, 23 Desember 2020
Seorang seniman yang terseret ke dalam dunia pendidikan kemudian mendedikasikan diri pada pergulatan Dakwah Islam Ideologis,
SELAMAT HARI IBU
JASA SEORANG IBU
Seorang seniman yang terseret ke dalam dunia pendidikan kemudian mendedikasikan diri pada pergulatan Dakwah Islam Ideologis,
MEMBANGUN KEPRIBADIAN ISLAM
Oleh
: G. Sukaton
Ya,
tidak kurang dari 1.400 tahun lalu, jauh sebelum Stephen R. Covey
lahir kedunia, Nabi Muhammad Saw sudah memberi contoh pola hidup dan habit yang
menjakjubkan, tidak saja membuat sehat -sehingga semasa hidup nya tidak pernah
sakit-, tapi juga membuat “hidup menjadi lebih hidup”. Inilah 7(tujuh)
kebiasaan Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya yang dapat membangun kepribadian
manusia menjadi istimewa.
1. Bersegera ke Masjid untuk shalat berjamaah
Habit(kebiasaan) ini tentu seruan khas untuk kaum adam, sementara kaum hawa bisa bersegera sholat pada waktunya di rumah saja, itu lebih utama bagi nya. Inilah rahasia membangun sikap disiplin tingkat tinggi yang akan membuat nya menjadi umat terbaik(Khoiru Ummah) di muka bumi.
2. Shalat Tahajud
Ini
adalah kebiasaan Rasulullah yang tidak pernah ditinggalkan nya sampai akhir
hayat selama menjadi Nabi dan Rasul. Berduaan dimalam sunyi di peluk Dzat yang
Maha Suci. Pantas kalau Rasulullah enggan meninggalkan moment ini. Maka bila
kita mampu mencontoh nya insya Allah akan menangkat derajat kita dihadapan
Allah diatas manusia yang lain. Inilah cara membangun kedekapan pribadi dengan
al Kholiq agar kita mendapat tempat istimewa di sisi Nya.
3. Shalat Dhuha
Bisa
dilakukan mulai jam 06 s/d setengan jam sebelum dzuhur. Bila dikerjakan dengan istiqomah, insya Allah akan memudahkan datang rizqi yang halal dan thoyib. Sendi yang ada di tubuh manusia ada 360 sendi. Allah Swt menghendaki untuk disedekahi tiap sendi nya. Sebagai pengganti nya adalah dengan shalat dhuha.
4. Membaca Qur’an setiap hari
Nikmatilah
betapa dahsyatnya sensasi saat membaca larik-larik “surat cinta” yang dikirim dari
Yang Maha Pencinta”, dan Dzikir yang paling utama adalah membaca al Qur’an
dengan tartil, agar setiap huruf menjadi saksi saat di hisab.
5. Sedekah
Dalam
matematika sedekah, diketahui bahwa sesungguhnya harta kita yang akan kekal abadi
adalah yang disedekahkan dengan ikhlas. Itulah yang akan menyelamatkan kita
nanti dari hisab Allah yang Maha Cepat dan Akurat.
6. Menjaga wudlu
Dengan
terjaganya wudlu kita dari yang membatalkan, maka insya Allah dapat menahan
kita dari perbuatan maksyiat. Sehingga mata, telinga, dan hati terjaga pula
dari kerusakan. Ini juga dapat mengantarkan kita pada Syurga Allah.
7. Istighfar setiap saat,
Rasulullah SAW tidak pernah kurang
dari 70-100 kali beristighfar dalam sehari. Lafaz istighfar ada 3(tiga):
1. Lafaz “Astaghfirullaah” .
أَسْتَغْفِرُ الله
2. Lafaz " Subhaanallaahu wa Bihamdihi
Astaghfirullaah wa Atubu Ilaih ".
سُبْحَانَ اللهُ وَبِحَمْدِهِ،
أَسْتَغْفِرُالله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
3. Lafaz Sayyidul Istighfar .
اللهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لآ إِلَهَ
إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ
مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ
بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِيْ، فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ
يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
" Ya Allah
Engkaulah Tuhan-ku. Tiada Tuhan уаng berhak diibadahi ԁеngаn benar ѕеӏаіn
Engkau. Engkau yаng tеӏаһ menciptakanku, ԁаn aku аԁаӏаһ Hamba-Mu. Aku аkаn
mеnјаgа janji-Mu sebaik уаng aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu ԁагі keburukan
segala уаng aku perbuat. Aku kеmbаӏі kepada-Mu ԁеngаn (mengakui) segala
nikmat-Mu kepadaku. Dаn akupun kеmbаӏі kepada-Mu ԁеngаn (mengakui) sеmuа
dosaku. Maka ampunilah aku. Kагеnа sesungguhnya tiada уаng bіѕа mengampuni
dosa-dosa ѕеӏаіn һаnуа Engkau ".
Insya
Allah dengan beristighfar setiap saat maka dosa-dosa kita akan terus berguguran.
Demikianlah
tauladan Rasulullah Saw. pada umatnya untuk membangun kepribadian Islam, Wallahu
‘alam bishshawab.
Sirnagalih, 16 Desember 2020
Seorang seniman yang terseret ke dalam dunia pendidikan kemudian mendedikasikan diri pada pergulatan Dakwah Islam Ideologis,
Harun al Rasyid, Amirul Mu'minin
Harun al Rasyid, Amirul Mu'minin
Pemutar-balikan fakta hampir terjadi di setiap babak sejarah Islam. Kejadian yang baik disusupi berita bohong dan palsu, kemudian dinilai menjadi kejadian buruk. Tokoh panutan ditampilkan menjadi antagonis yang layak dapat cercaan bahkan doa jelek. Masyarakat awam pun gamang, bagian mana dari sejarah Islam ini yang patut jadi teladan. Akhirnya, generasi muda Islam tumbuh dengan kekaguman dengan tokoh-tokoh penjajah yang jauh dari nilai-nilai Islam. Dan mereka benci dengan pahlawan-pahlawan yang memperjuangkan keluhuran agama mereka.
Di antara tokoh yang menjadi sasaran penghancuran karakter adalah Khalifah Abbasiyah Harun al-Rasyid rahimahullah. Para perusak sejarah Islam mencoba menggambarkan image Harun al-Rasyid dengan tampilan seorang pemabuk. Malam-malamnya adalah hidup foya-foya. Seorang diktator yang dikelilingi selir dan para penari. Mengapa image ini perlu ditampilkan? Karena beliau khalifah terbaik Abbasiyah. Pengibar bendera jihad dan sangat besar perhatian terhadap ilmu dan ulama. Seorang figur teladan yang ingin dibuat sebagai pecundang yang mengecewakan.
Harun al-Rasyid diangkat menjadi khalifah pada malam sabtu 16 Rabiul Awal 170 H. Bertepatan dengan 14 September 786 M. Ia menggantikan kedudukan ayahnya yang wafat, Khalifah al-Mahdi. Saat diangkat menjadi pimpinan tertinggi kerajaan, Harun al-Rasyid baru menginjak usia 25 tahun.
Memuliakan Ulama
Harun al-Rasyid adalah seorang raja yang dikenal memuliakan ulama. Ia begitu mengagungkan agamanya. Tidak suka perdebatan dan banyak bicara. Dan ia sangat mencintai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam beberapa risalahnya, Al-Qadhi Iyadh, memiliki kesan yang mendalam pada figur Harun al-Rasyid. Beliau mengatakan, “Tidak kuketahui seorang raja pun yang bersafar menempuh perjalanan belajar kecuali al-Rasyid. Ia berjalan bersama dua orang anaknya al-Amin dan al-Makmun, untuk mendengar kajian al-Muwaththa yang disampaikan oleh Imam malik rahimahullah.”
Saat akhir hayat sang khalifah, Abdullah bin al-Mubarak bersedih. Ia duduk penuh duka. Sampai orang-orang pun menghiburnya. Abdullah bin al-Mubarak adalah seorang ulama tabi’ tabi’in. Seorang yang shaleh dan wara’. Orang seperti beliau bersedih dan menangis ketika Harun al-Rasyid hendak wafat.
Abu Muawiyah ad-Dharir mengatakan, “Tidaklah aku menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan al-Rasyid kecuali beliau mengucapkan, ‘Shalawat untuk junjunganku’. Kemudian aku riwayatkan sebuah hadits kepadanya. (Rasulullah bersabda) ‘Sungguh aku ingin berperang di jalan Allah, kemudian terbunuh. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh lagi’. (mendengar hadits itu) Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu.”
Hadits ini selengkapnya adalah sebagai berikut:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ وَدِدْتُ أَنِّي أُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، فَأُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berandai, berperang di jalan Allah. Kemudian terbunuh. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh lagi. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh kembali.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tamanni, 6713).
Hadits ini menggambarkan tentang pahala jihad dan bagaimana keberanian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wafat di medan perang bukanlah kematian yang ringan. Wafat di medan perang adalah kematian yang memakan waktu, berhadapan dengan sesuatu yang menakutkan, melihat darah terkucur, dan rasa sakit yang tidak sesaat. Tapi beliau berani melakukannya. Dan berharap pahala besar dari amalan jihad.
Mendengar hadits ini, dan semangatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memperjuangkan Islam dan mendapatkan pahalanya, Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu. Anda baru saja membaca hadits tersebut. Bagaimana perasaan Anda? Apakah pada bacaan pertama Anda, Anda merasakan apa yang dirasakan Harun al-Rasyid? Anda mengalami seperti apa yang ia alami? Dari sini, barulah kita bisa membedakan antara cinta kita dengan Rasulullah dan hadits beliau, beda dengan cintanya Harun al-Rasyid kepada Nabi dan haditsnya.
Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asakir dari Ibnu Aliyah, ia berkata, “Harun al-Rasyid menangkap seorang zindiq (yang rusak akidahnya). Ia memerintah agar si zindiq ini dipenggal. Si zindiq ini berkata kepada Harun, “Engkau tidak akan memenggal kepalaku.” “Aku akan membuat orang-orang terhenti dari ulah burukmu”, jawab Harun.
Si Zindiq ini berkata lagi:
فأين أنت من ألف حديث وضعتها على رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كلها ما فيها حرف نطق ب
“Apa yang bisa kau lakukan terhadap 1000 hadits yang telah kupalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Semua hurufnya telah terucapkan.” Ia menakuti Harun, kalau dia mati siapa yang bakal menunjukkan hadits-hadits palsu yang telah beredar itu. Karena dia yang membuat, dia pulalah yang tahu mana ucapan-ucapannya.
Tapi Harun al-Rasyid dtidak menggubris tawarannya. Dengan percaya diri ia menjawab,
فأين أنت يا عدو الله من أبى إسحاق الفزارى وعبد الله بن المبارك ينخلانها فيخرجانها حرفا حرف
“Apakah kau tidak tahu wahai musuh Allah tentang keahlian Abu Ishaq al-Fazari dan Abdullah bin al-Mubarak? Mereka akan menelitinya dan menilainya huruf per huruf.”
Sanjungan Ulama
Para ulama memuji Khalifah Harun al-Rasyid atas keadilannya dan keshalehannya. Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata,
ما من نفس تموت أشد علي موتا من أمير المؤمنين هارون ولوددت أن الله زاد من عمري في عمره
“Tak ada seorang pun yang kematiannya lebih kutangisi dibanding kematian Amirul Mukminin Harun. Aku berandai kalau Allah mengambil jatah usiaku untuk ditambahkan pada usianya.”
Murid-murid Fudhail bin Iyadh berkata, “Kami menganggap bahwa ucapan beliau hanya sanjungan berlebihan terhadap Harun al-Rasyid. Ketika Harun wafat. Kemudian muncullah fitnah. Khalifah al-Makmun menyebarkan pemahaman khalqul quran di tengah masyarakat. Kami pun berkata, ‘Guru kita sangat paham terhadap apa yang ia ucapkan’.”
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Baca Juga : Kisah ahli Syurga Abu Dhom dhom
Seorang seniman yang terseret ke dalam dunia pendidikan kemudian mendedikasikan diri pada pergulatan Dakwah Islam Ideologis,
CARA SYETAN MENGECOH MANUSIA
BAGAIMANA SYETAN MENGECOH MANUSIA
Oleh : G. Sukaton
Mengutip salah satu
ulama terkenal, Ibnu Qayyim al-Jauzi, setidaknya ada 7 (tujuh) tingkatan godaan
setan terhadap manusia.
Pertama, setan mengajak manusia kepada kemusyrikan. Pada
level ini, setan mencoba mengecoh asas keimanan manusia untuk mengingkari Allah
SWT sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa dan Yang Berhak Disembah. Seruan kepada
kemusryikan ini terus mengalami perkembangan dan penyesuaian di setiap masa.
Namun, pada hakikatnya, seruan kemusyrikan ini mengajak manusia untuk
mengingkari Allah SWT, Tuhan Yang Esa, dan Menolak Aturan Nya kemudian membelokkan
keimanan manusia kepada tuhan-tuhan lain (thagut), yang bisa berbentuk uang, kekayaan, Jabatan
tinggi, popularitas dan lain sebagainya.
kedua, melakukan dosa-dosa besar. Setan menipu manusia
yang telah beriman dan beramal shaleh. Tidak masalah bagi setan, jika ada
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, selama mereka melakukan dosa-dosa
besar. Karena, bisa jadi, keimanan dan amal saleh seseorang akan rusak ketika
mereka terbiasa melakukan dosa-dosa besar.
ketiga, melakukan dosa-dosa kecil. Setan terus membujuk
manusia dengan dosa-dosa kecil, memang tidak seberat dosa-dosa besar. Namun,
dosa-dosa kecil yang dilakukan secara rutin dipastikan akan menutupi mata hati
manusia (nurani). Sehingga, manusia yang terbiasa melakukan dosa-dosa kecil
akan kehilangan nurani-nya, hingga kemudian hidayah Allah SWT, tidak akan
pernah menyentuh hati manusia tersebut. Maka, sudah sepatutnya kita menghindari
dosa-dosa kecil, sekecil apapun.
Keempat, seruan kepada khurafat(legenda/cerita bohong) dan bid’ah.
Ketika amal yang dilakukan tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Banyak orang
yang merasa telah menghimpun banyak amal-amal saleh, niatnya sudah benar dalam
rangka beribadah kepada Allah SWT. Namun, karena ilmu yang sedikit dan tidak
mau bertanya kepada alim-ulama, maka terjebaklah manusia-manusia itu kepada
seruan setan, dengan menjalankan khurafat dan bid’ah.
kelima, amal-amal yang melalaikan. Setan terus mencoba
menjerumuskan manusia untuk terkecoh dengan Amal-amal yang
tidak menimbulkan dosa bila diamalkan, namun tidak juga memberikan pahala dan
manfaat bagi yang melakukannya. Dalam tingkatan ini, setan terus mencoba
mempengaruhi manusia agar tidak berbuat kebaikan, tapi sibuk dengan amal
perbuatan yang sama sekali tidak memberi manfaat, sia-sia.
keenam, gagal dalam memilih prioritas amal. Ketika seseorang
sudah memiliki akidah yang lurus, amal yang benar, menjauhkan diri dari
perbuatan dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, bahkan dari sekedar amal yang
sia-sia, maka setan terus menggoda manusia yang beriman dengan menghadirkan
pilihan-pilihan amal kebajikan yang bervariasi nilai-nilai kebaikan dan manfaat
nya, maka setan mencoba menggelincirkan manusia tersebut kepada amal yang nilai
kebaikan dan manfaat nya paling rendah dari semua pilihan amal yang tersedia.
ketujuh, serangan yang bersifat psikologis, bahkan serangan
fisik, adalah level di mana para nabi, rasul, dan para ulama
penerus nabi dan rasul berada. Pada level ini, setan tidak lagi menampakkan
godaan-godaan yang bersifat metafisik. Namun, setan yang telah frustasi ini
dengan usaha yang keras mencoba mengecoh manusia sebagaimana dahulu telah
dirasakan oleh para nabi, rasul, dan para ulama penerus para nabi dan rasul.
Setan di level ini menyamar menjadi manusia yang menyebarkan fitnah-fitnah
kepada orang-orang yang beriman untuk menghentikan ibadah dan amal kebaikannya.
Bahkan, tidak segan, setan-setan tersebut menampakkan diri baik dalam wujud jin
dan manusia, untuk mencelakakan orang-orang yang beriman.
Barangkali, sulit
bagi kita yang notabene manusia-manusia biasa yang tak pernah
luput dari kelalaian untuk menyamai ‘kelas’ sebagaimana para Nabi, Rasul, dan
ulama warasatul
anbiyaa. Namun, tidak semestinya juga kita berputus asa dalam amal
kebaikan. Tidak ada salahnya bagi kita untuk mengup-grade diri dengan
senantiasa meluruskan aqidah, benar dalam amal, selalu terjaga dari dosa-dosa
kecil apalagi dosa-dosa besar, serta sangat menjaga diri dari perkataan dan perbuatan
yang sia-sia. Selalu menyibukkan diri dengan amal-amal kebaikan. Membuat
prioritas amal yang memiliki manfaat terbanyak.
Sampai Ketika itu,
kita menjadi insan yang gemar menabur kebajikan kepada setiap orang di
sekeliling kita, bahkan lingkungan alam tempat kita menetap, menjadi rahmatan lil
‘alamiin.
Wallahu’aalam
bishshawab[GS].
Ciawi,
Tapos-Gugunung, 7 Desember 2020
Seorang seniman yang terseret ke dalam dunia pendidikan kemudian mendedikasikan diri pada pergulatan Dakwah Islam Ideologis,
ALLAH MEMULIYAKAN HAMBA NYA
BAGAIMANA ALLAH SWT
MEMULIYAKAN HAMBA NYA
Oleh : G. Sukaton
Rasulullah Saw bersabda :
“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan
menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia
sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian
pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu
itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka
dibinasakan olehnya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah Swt masih ingatkan pada fenomena alam di
kota Palu yang terjadi pada akhir September 2018 lalu yang kemudian disebut
likuifaksi. Bagaimana permukaan tanah tiba-tiba amblas sehingga apapun yang ada
diatasnya, pohon, rumah beserta isinya seperti ditelan bumi. Peristiwa saat itu
diawali gemba bumi berkekuatan 7,4 SR diikuti tsunami.
Wallahu ‘alam demikianlah
peristiwa dimasa lampau yang diabadikan dalam al Qur’an, saat Allah Swt.
mengadzab kesombongan dan ketamakan Qorun atas harta yang Allah limpahkan
padanya berupa perhiasan dan batang-batang emas karena do’a Nabi Musa AS, agar
Allah menolong Qorun yang tetap taat beribadah pada Allah Swt. meskipun pada
saat itu masih hidup dalam kemiskinan yang amat menyedihkan. Allah Swt.
berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia
berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya
perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah
orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya:
"Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang terlalu membanggakan diri"(QS. Al Qasash:76)
Dan bila kita simak firman Allah Swt yang
artinya :
“Dan sesungguhnya telah Kami utus
Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Firaun,
Haman, dan Qarun; maka mereka berkata, “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang
pendusta.” (QS Ghafir 23-24.)
Nampak Allah Swt ingin memperlihatkan tiga sosok manusia
durhaka yang bernama Firaun(gelar raja-raja Mesir kuno), simbol penguasa
dzolim, Haman (Orang kepercayaan Firaun), simbol cendekiawan penjilat yang
menjadi ‘stempel’ penguasa, dan Qorun adalah simbol Pengusaha Kaya namun
tamak, mereka mewakili karakter manusia sepanjang jaman.
Lalu
bagaimana hakikat nya cara Allah memuliyakan hambanya yang shalih. Apakah
dengan melimpahkan harta nya, memberinya jabatan, atau menganugerahkan wajah
dan tubuh yang rupawan?, ternyata bukan dengan itu semua. Karena Allah Swt.
berfirman :
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi
Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.”(QS.al Hujurat:13)
Maka jelaslah sekarang apa yang
mesti kita lakukan selama hidup di dunia, agar dengan waktu yang singkat ini
kita bisa berlomba-lomba untuk menjadi hamba Nya yang paling taqwa.
Allahumma yassir umurona ya Allah,
ya Allah mudahkanlah segala urusan kami ya Allah, Aamiin.
Selamat berlomba melakukan
kebaikan, salam ukhuwah. Wallahu’alam bishshawab[GS]
Sirnagalih, 5 Desember 2020
Seorang seniman yang terseret ke dalam dunia pendidikan kemudian mendedikasikan diri pada pergulatan Dakwah Islam Ideologis,
TUJUAN ALLAH SWT. MENURUNKAN AL QUR'AN
TUJUAN ALLAH SWT. MENURUNKAN AL QUR’AN
Oleh : G. Sukaton
Allah Swt. tidak menciptakan manusia
dengan bermain-main, tanpa tujuan dan target yang jelas, begitu serius nya Allah
Awt. dalam hal mengurusi manusia dengan segala kebutuhan nya. Untuk itulah
Allah Swt menurunkan al Qur’an yang berisi hukum syara, yang oleh para ulama
disebut dengan istilah Maqashid Syariah.
Untuk apakah Allah Swt menurunkan
hukum syara?
Imam Asy-Syatibi menjelaskan ada 5
(lima) bentuk maqashid syariah atau yang disebut dengan kulliyat
al-khamsah (lima prisip umum). Kelima maqashid tersebut yaitu
- Hifdzu din (melindungi agama),
- Hifdzu nafs (melindungi jiwa),
- Hifdzu aql (melindungi pikiran)
- Hifdzu mal (melindungi harta),
- Hifdzu nasab (melindungi keturunan).
Ironis nya saat
ini kelima point tersebut diatas sudah dirusak oleh tangan manusia yang angkuh,
karena hukum syara sebagai pelindung nya sudah ditolak dengan berbagai alasan
dan menggantinya dengan hukum dan aturan-aturan buatan manusia. Itulah kebodohan
yang paling nyata. Sama bodoh nya dengan Iblis yang menolak perintah Allah Swt.
Saat diperintahkan untuk bersujud pada Adam AS.
Dalam firman
Nya Allah Swt menyebut perbuatan mereka itu dengan istilah yang sangat jelas
dan tegas.
أُوْلَٰٓئِكَ
ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡعَذَابَ بِٱلۡمَغۡفِرَةِۚ
فَمَآ أَصۡبَرَهُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ ١٧٥
“Mereka itulah
orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan.
Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka.”
(QS.al
Baqarah:175).
Bagaimana nasib orang-orang sombong dan bodoh yang sudah
menolak hukum syara sebagai aturan hidup?. Firman Allah Swt. :
إِنَّ
ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَشۡتَرُونَ بِهِۦ
ثَمَنٗا قَلِيلًا أُوْلَٰٓئِكَ مَا يَأۡكُلُونَ فِي بُطُونِهِمۡ إِلَّا ٱلنَّارَ
وَلَا يُكَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ وَلَهُمۡ
عَذَابٌ أَلِيمٌ ١٧٤
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah
diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit
(murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya
melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat
dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.”(QS. Al Baqarah:174)
Menolak
hukum Syara dan enggan menerapkan hukum-hukum Nya adalah dosa terbesar umat
manusia yang akhirnya mengundang berbagai adzab Allah Swt.[GS]
Wallahu
‘alam bishshawab.
Seorang seniman yang terseret ke dalam dunia pendidikan kemudian mendedikasikan diri pada pergulatan Dakwah Islam Ideologis,
Maqashid Syari'ah
Maqashid Syari'ah
Fungsi dan Cara Mengetahuinya
sumber pertama agama Islam,
Al-Qur'an mengandung berbagai ajaran. Ulama membagi kandungan Al-Qur'an dalam
tiga bagian besar, yaitu aqidah, akhlaq dan syariat. Al-Qur'an tidak membuat
aturan yang terperinci tentang ibadah dan muamalah. Ia hanya mengandung
dasar-dasar atau prinsip-prinsip bagi berbagai masalah hukum dalam Islam.
Bertitik tolak dari dasar atau prinsip ini, Nabi Muhammad SAW, menjelaskan
melalui berbagai haditsnya. Kedua sumber inilah (Al-Qur'an dan Hadits) yang
kemudian dijadikan pijakan ulama dalam mengembangkan hukum Islam, terutama
dalam bidang mu'amalah. Dalam kerangka inilah Asy-Syatibi mengemukakan konsep
maqashid syariah.
Pengertian Maqashid
Syari'ah
Dalam kamus bahasa Arab, maqshad dan
maqashid berasal dari akra kata qashd (). Maqashid () adalah kata yang
menunjukkan banyak (jama'), mufradnya maqshad yang berarti tujuan atau target.
Sedangkan menurut istilah dari beberapa ulama adalah sebagai berikut, menurut
al-Fasi maqashid syariah adalah: tujuan atau rahasia Allah dalam setiap hukum
syariat-Nya. Menurut ar-Risuni, tujuan yang ingin dicapai oleh syariat untuk
mereaalisasikan kemaslahatan hamba. Dan Syatibi mendifinisikan maqashid syariah
dari kaidah berikut berikut: "Sesungguhnya syariah bertujuan untuk
mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat".
Dari pengertian tersebut, dapat
dikatakan bahwa tujuan syariah menurut Syatibi adalah kemaslahatan umat
manusia. Lebih jauh, ia menyatakan bahwa tidak satupun hukum Allah yang tidak
mempunyai tujuan, karena hukum yang tidak mempunyai tujuan sama dengan
membebankan sesuatu yang tidak dilaksanakan. Kemaslahatan disini diartikan
sebagai segala sesuatu yang menyangkut rezeki manusia, pemenuhan penghidupan
manusia, dan perolehan apa-apa yang dituntut oleh kualitas-kualitas emosional
dan intelektualnya, dalam pengertian yang mutlak.
Imam Asy-Syatibi menjelaskan ada 5
(lima) bentuk maqashid syariah atau yang disebut dengan kulliyat
al-khamsah(lima prisip umum). Kelima maqashid tersebut yaitu:
1. Hifdzu din(melindungi agama),
2. Hifdzu nafs(melindungi jiwa),
3. Hifdzu aql(melindungi pikiran),
4. Hifdzu mal(melindungi harta),
5. Hifdzu nasab(melindungi keturunan).
Kemusian dalam kebutuhan manusia terhadap harta ada yang bersifat dharuri(primer), haji(sekunder), dan tahsini(pelengkap).
Fugsi Maqashid Syari'ah
Seorang faqih dan mufti wajib
mengetahui maqashid nash sebelum mengeluarkan fatwa. Jelasnya, seorang faqih
harus mengetahui tujuan Allah dalam setiap syariat-Nya (perintah atau
larangan-Nya) ag fatwanya sesuai dengan tujuan Allah SWT. Agar tidak terjadi
--seperti- sesuat yang menjadi kebutuhan dharuriyah manusia, tapi
dihukumi sunnah atau mubah.
Lembaga fikih OKI (Organisasi
Konferensi Islam) menegaskan bahwa setiap fatwa harus menghadirkan maqashid
syariah karena maqashid syariah memberikan manfaat sebagai berikut:
pertama, bisa memahami nash-nash Al-Qur'an dan hadits beserta
hukumnya secara komprehensif.
Kedua, bisa mentarjihsalah satu pendapat fuqaha
berdasarkan maqashid syariah sebagai salah satu standar.
Ketiga, memahami ma'allat(pertimbangan
jangka panjang) kegiatan dan kebijakan manusia dan mengaitkannya dengan
ketentuan hukumnya.
Tiga poin tersebut diatas
menunjukkan bahwa mengaitkan status hukum dengan maqashid syariah itu sangat
penting supaya produk-produk hukum itu tidak bertentangan dengan maslahat dan
hajat manusia.
Dalam bab ekonomi produk-produk
hukum itu harus memenuhi hajat dan kepentingan manusia baik hajat mereka
sebagai pembeli, penjual dan lain sebagainya.
Diantara praktek-praktek yang bertentangan dengan
maqashid syariah adalah praktik hilalh ribawiyah(rekayasa) praktek ribawi yang
terlarang. Hal ini pula yang ditegaskan dalam Standar Syariah AAOIFI: 'tidak
boleh mengarahkan lembaga keuangan syariah untuk melakukan hilah yang dilarang
oleh syariat karena bertentangan degnan maqashid syariah (tujuan hukumnya).
Semoga bermanfaat
Sumber :
§
Kompasianana.com
§
Slideshare.net
Seorang seniman yang terseret ke dalam dunia pendidikan kemudian mendedikasikan diri pada pergulatan Dakwah Islam Ideologis,
SMARTER
Mimpi besar insya Allah dapat terwujud bila memenuhi konsep SMARTER Beberapa orang menganggap bahwa smart disamakan dengan istilah KPI (Key ...








