Pemasaran : Harjasari, Jl. Rulita II RT 03 RW 02, Kecamatan Bogor Selatan - Kota Bogor wa: 0817-0711-072, 0878-2521-0791

MERAWAT KETAKWAAN


Merawat ketakwaan pasca Ramadhan

Bulletin Kaffah

Siapa saja yang menginginkan amal-amalnya sepanjang Ramadhan diterima oleh Allah SWT, ia harus merawat dan mewujudkan ketakwaan hakiki dalam dirinya. Ada sejumlah langkah yang harus dilakukan.


Tiga kelompok manusia, berkaitan dengan Ramadhan

 

Pertama : Kelompok Muslim yang sebelum dan sesudah Ramadhan sama saja.

Sama-sama mengabaikan ketaatan kepada Allah SWT. Ada atau tidak adanya Ramadhan tidak berdampak apa pun kepada mereka. Manusia dalam kelompok ini adalah yang paling celaka. Hati mereka telah terkunci akibat banyaknya perbuatan dosa yang mereka lakukan. Panggilan agung menuju ketakwaan tidak berpengaruh pada mereka. Inilah yang disebut oleh Allah SWT sebagai kelompok binatang ternak:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْ

Sungguh, Kami benar-benar telah menyediakan untuk Neraka Jahanam kebanyakan makhluk dari kalangan jin dan manusia (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka gunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka memiliki mata yang tidak mereka gunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah). Mereka pun memiliki telinga yang tidak mereka gunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah (TQS al-A’raf [7]: 179).

Kedua : Kelompok Muslim yang sebelum Ramadhan jauh dari Allah SWT dan sering mengabaikan ibadah. Akan tetapi, ketika Ramadhan tiba mereka bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah (shaum, tadarus dan tarawih sepanjang Ramadhan). Lalu saat bulan mulia itu berlalu, rangkaian amal shalih itu kembali menghilang. Mereka yang termasuk golongan ini adalah yang oleh ulama salafus-shalih disebut sebagai “Hamba Ramadhan”. Mereka baru mau mendekati Allah hanya pada bulan Ramadhan saja. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahulLaah berkata, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya pada bulan Ramadhan saja. Sungguh seorang yang benar-benar shalih itu adalah orang yang istiqamah beribadah dan bersungguh-sungguh (taat kepada Allah SWT) sepanjang tahun.” (Ibnu Rajab, Lathaa'if al-Ma'aarif, hlm. 222).

Ketiga : Kelompok Muslim yang sebelum Ramadhan memang sudah dekat dengan Allah SWT.

Mereka selalu bersungguh-sungguh menjalankan aturan Allah. Saat datang bulan Ramadhan ketaatan mereka semakin bertambah. Usai Ramadhan pun mereka tetap bekerja keras menjaga ketaatan tersebut. Inilah golongan yang beruntung karena mereka terus-menerus memelihara ketakwaan mereka sepanjang tahun. Bahkan setiap kali datang Ramadhan, bertambah lagi ketakwaan mereka.


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًۭا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqān (kemampuan membedakan antara yang haq dan yang batil) kepada kalian, menghapus segala kesalahan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah memiliki karunia yang besar (TQS al-Anfal [8]: 29).

 

Tanda Kesuksesan Ramadhan
Seorang Muslim yang bertahan dalam ketakwaan usai Ramadhan menunjukkan bahwa amal-amal ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima. Sebaliknya, jika ketakwaan ikut pudar bersama berakhirnya Ramadhan, itu tanda amal-amalnya selama bulan Ramadhan tertolak. Setidaknya, itulah yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, “Kembali berpuasa (yakni puasa sunah pada Bulan Syawal) setelah menunaikan puasa Ramadhan adalah salah satu tanda amalan puasa Ramadhan itu diterima oleh Allah SWT. Sebabnya, jika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi dia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Imbalan (pahala) atas kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu dia ikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan sebelumnya diterima oleh Allah SWT. Sebaliknya, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu setelahnya malah dia ikuti dengan kejelekan, maka itu tanda kebaikan tersebut tertolak dan tidak diterima oleh Allah.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, hlm. 388).
Apalagi jika seorang hamba justru merencanakan kembali berbagai kemaksiatan setelah Ramadhan berakhir. Itu adalah keburukan yang luar biasa. Imam Ibnu Rajab an-Hanbali mengingatkan, “Siapa yang meminta ampunan secara lisan, tetapi hatinya bertaut pada kemaksiatan, serta berencana untuk kembali melakukan maksiat setelah bulan puasa, maka puasanya ditolak dan pintu penerimaan tobat ditutup.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma'aarif, hlm. 484).

1.     Menjadikan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam hidupnya.

Orang yang bertakwa akan berjuang keras mendapatkan ridha Allah meskipun ia harus mengorbankan dunianya dan mendapatkan celaan dari manusia.

Rasulullah saw. bersabda:


مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَ

 

2.     Mewujudkan rasa takut hanya kepada Allah SWT.

Dengan memiliki rasa takut kepada Allah SWT maka seorang Muslim akan terjaga dari perbuatan maksiat. Selanjutnya ia akan bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya.

Allah SWT berfirman:


تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka. Mereka selalu berdoa kepada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut dan harap. Mereka pun menafkahkan rezeki yang Kami berikan (di jalan Allah) (TQS as-Sajdah [32]:16).

3.     Menerima Islam secara kaaffah dan tidak memilah-milah aturan Allah SWT.

Ia akan selalu berusaha khusyuk dalam beribadah, sekaligus berusaha sungguh-sungguh menjalankan hukum-hukum Islam dalam bidang sosial, ekonomi, militer, politik dan pemerintahan, dll. Allah SWT berfirman:


أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kalian mengimani sebagian Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat (TQS al-Baqarah [2]: 85).

 

4.     Tidak menunda-nunda pengerjaan amal shalih, terutama amal-amal yang wajib.

Nabi saw. memerintahkan kita agar bersegera dalam mengerjakan amal shalih sebelum datang fitnah yang menyulitkan kehidupan.

Sabda beliau:


بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (kesulitan) seperti potongan malam yang gelap (HR Muslim).

 

5.     Memberikan al-walaa’ (loyalitas) hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta al-baraa’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir.

Ketakwaan menuntut dua hal ini. Mustahil mencapai derajat takwa, sementara masih setia bersekutu/beraliansi dengan kaum kuffaar, seperti Amerika Serikat dan zionis Yahudi. Padahal Allah SWT telah berfirman:


لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang mengimani Allah dan Hari Kiamat itu saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya (TQS al-Mujadilah [58]: 22).

 

6.     Bersabar dalam ketaatan.

Sesungguhnya menjadi hamba Allah yang bertakwa akan menghadapi berbagai ujian. Termasuk cemoohan dan permusuhan dari kaum kuffaar dan kaum fasik. Setiap Muslim yang ingin mewujudkan ketakwaan usai Ramadhan harus bersabar menghadapi semua tantangan tersebut. Nabi saw. bersabda:


يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْر

Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api (HR at-Tirmidzi).
Syaikh Al-Mubarakfuri menukil perkataan Al-Qari, “Tidak mungkin menggenggam bara api kecuali dengan kesabaran yang luar biasa dan menanggung kesusahan yang sangat berat. Ini bisa terjadi pada zaman yang tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana bisa menjaga agama, kecuali dengan kesabaran yang besar.” (Al-Mubarakfuri,Tuhfah al-Ahwadzi, 6/444, Maktabah Syamilah).

 

Rasulullah saw. bersabda:


مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

Siapa saja yang mencari ridha Allah meski dia harus dimurkai oleh manusia, maka Allah akan menjaga dirinya dari gangguan manusia. Siapa saja yang mencari ridha manusia, tetapi dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada manusia (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SMARTER

Mimpi besar insya Allah dapat terwujud bila memenuhi konsep SMARTER Beberapa orang menganggap bahwa smart disamakan dengan istilah KPI (Key ...