Pemasaran : Harjasari, Jl. Rulita II RT 03 RW 02, Kecamatan Bogor Selatan - Kota Bogor wa: 0817-0711-072, 0878-2521-0791

Tampilkan postingan dengan label pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesantren. Tampilkan semua postingan

MERAWAT KETAKWAAN


Merawat ketakwaan pasca Ramadhan

Bulletin Kaffah

Siapa saja yang menginginkan amal-amalnya sepanjang Ramadhan diterima oleh Allah SWT, ia harus merawat dan mewujudkan ketakwaan hakiki dalam dirinya. Ada sejumlah langkah yang harus dilakukan.


Tiga kelompok manusia, berkaitan dengan Ramadhan

 

Pertama : Kelompok Muslim yang sebelum dan sesudah Ramadhan sama saja.

Sama-sama mengabaikan ketaatan kepada Allah SWT. Ada atau tidak adanya Ramadhan tidak berdampak apa pun kepada mereka. Manusia dalam kelompok ini adalah yang paling celaka. Hati mereka telah terkunci akibat banyaknya perbuatan dosa yang mereka lakukan. Panggilan agung menuju ketakwaan tidak berpengaruh pada mereka. Inilah yang disebut oleh Allah SWT sebagai kelompok binatang ternak:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْ

Sungguh, Kami benar-benar telah menyediakan untuk Neraka Jahanam kebanyakan makhluk dari kalangan jin dan manusia (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka gunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka memiliki mata yang tidak mereka gunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah). Mereka pun memiliki telinga yang tidak mereka gunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah (TQS al-A’raf [7]: 179).

Kedua : Kelompok Muslim yang sebelum Ramadhan jauh dari Allah SWT dan sering mengabaikan ibadah. Akan tetapi, ketika Ramadhan tiba mereka bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah (shaum, tadarus dan tarawih sepanjang Ramadhan). Lalu saat bulan mulia itu berlalu, rangkaian amal shalih itu kembali menghilang. Mereka yang termasuk golongan ini adalah yang oleh ulama salafus-shalih disebut sebagai “Hamba Ramadhan”. Mereka baru mau mendekati Allah hanya pada bulan Ramadhan saja. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahulLaah berkata, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya pada bulan Ramadhan saja. Sungguh seorang yang benar-benar shalih itu adalah orang yang istiqamah beribadah dan bersungguh-sungguh (taat kepada Allah SWT) sepanjang tahun.” (Ibnu Rajab, Lathaa'if al-Ma'aarif, hlm. 222).

Ketiga : Kelompok Muslim yang sebelum Ramadhan memang sudah dekat dengan Allah SWT.

Mereka selalu bersungguh-sungguh menjalankan aturan Allah. Saat datang bulan Ramadhan ketaatan mereka semakin bertambah. Usai Ramadhan pun mereka tetap bekerja keras menjaga ketaatan tersebut. Inilah golongan yang beruntung karena mereka terus-menerus memelihara ketakwaan mereka sepanjang tahun. Bahkan setiap kali datang Ramadhan, bertambah lagi ketakwaan mereka.


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًۭا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqān (kemampuan membedakan antara yang haq dan yang batil) kepada kalian, menghapus segala kesalahan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah memiliki karunia yang besar (TQS al-Anfal [8]: 29).

 

Tanda Kesuksesan Ramadhan
Seorang Muslim yang bertahan dalam ketakwaan usai Ramadhan menunjukkan bahwa amal-amal ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima. Sebaliknya, jika ketakwaan ikut pudar bersama berakhirnya Ramadhan, itu tanda amal-amalnya selama bulan Ramadhan tertolak. Setidaknya, itulah yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, “Kembali berpuasa (yakni puasa sunah pada Bulan Syawal) setelah menunaikan puasa Ramadhan adalah salah satu tanda amalan puasa Ramadhan itu diterima oleh Allah SWT. Sebabnya, jika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi dia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Imbalan (pahala) atas kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu dia ikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan sebelumnya diterima oleh Allah SWT. Sebaliknya, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu setelahnya malah dia ikuti dengan kejelekan, maka itu tanda kebaikan tersebut tertolak dan tidak diterima oleh Allah.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, hlm. 388).
Apalagi jika seorang hamba justru merencanakan kembali berbagai kemaksiatan setelah Ramadhan berakhir. Itu adalah keburukan yang luar biasa. Imam Ibnu Rajab an-Hanbali mengingatkan, “Siapa yang meminta ampunan secara lisan, tetapi hatinya bertaut pada kemaksiatan, serta berencana untuk kembali melakukan maksiat setelah bulan puasa, maka puasanya ditolak dan pintu penerimaan tobat ditutup.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma'aarif, hlm. 484).

1.     Menjadikan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam hidupnya.

Orang yang bertakwa akan berjuang keras mendapatkan ridha Allah meskipun ia harus mengorbankan dunianya dan mendapatkan celaan dari manusia.

Rasulullah saw. bersabda:


مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَ

 

2.     Mewujudkan rasa takut hanya kepada Allah SWT.

Dengan memiliki rasa takut kepada Allah SWT maka seorang Muslim akan terjaga dari perbuatan maksiat. Selanjutnya ia akan bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya.

Allah SWT berfirman:


تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka. Mereka selalu berdoa kepada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut dan harap. Mereka pun menafkahkan rezeki yang Kami berikan (di jalan Allah) (TQS as-Sajdah [32]:16).

3.     Menerima Islam secara kaaffah dan tidak memilah-milah aturan Allah SWT.

Ia akan selalu berusaha khusyuk dalam beribadah, sekaligus berusaha sungguh-sungguh menjalankan hukum-hukum Islam dalam bidang sosial, ekonomi, militer, politik dan pemerintahan, dll. Allah SWT berfirman:


أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kalian mengimani sebagian Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat (TQS al-Baqarah [2]: 85).

 

4.     Tidak menunda-nunda pengerjaan amal shalih, terutama amal-amal yang wajib.

Nabi saw. memerintahkan kita agar bersegera dalam mengerjakan amal shalih sebelum datang fitnah yang menyulitkan kehidupan.

Sabda beliau:


بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (kesulitan) seperti potongan malam yang gelap (HR Muslim).

 

5.     Memberikan al-walaa’ (loyalitas) hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta al-baraa’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir.

Ketakwaan menuntut dua hal ini. Mustahil mencapai derajat takwa, sementara masih setia bersekutu/beraliansi dengan kaum kuffaar, seperti Amerika Serikat dan zionis Yahudi. Padahal Allah SWT telah berfirman:


لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang mengimani Allah dan Hari Kiamat itu saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya (TQS al-Mujadilah [58]: 22).

 

6.     Bersabar dalam ketaatan.

Sesungguhnya menjadi hamba Allah yang bertakwa akan menghadapi berbagai ujian. Termasuk cemoohan dan permusuhan dari kaum kuffaar dan kaum fasik. Setiap Muslim yang ingin mewujudkan ketakwaan usai Ramadhan harus bersabar menghadapi semua tantangan tersebut. Nabi saw. bersabda:


يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْر

Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api (HR at-Tirmidzi).
Syaikh Al-Mubarakfuri menukil perkataan Al-Qari, “Tidak mungkin menggenggam bara api kecuali dengan kesabaran yang luar biasa dan menanggung kesusahan yang sangat berat. Ini bisa terjadi pada zaman yang tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana bisa menjaga agama, kecuali dengan kesabaran yang besar.” (Al-Mubarakfuri,Tuhfah al-Ahwadzi, 6/444, Maktabah Syamilah).

 

Rasulullah saw. bersabda:


مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

Siapa saja yang mencari ridha Allah meski dia harus dimurkai oleh manusia, maka Allah akan menjaga dirinya dari gangguan manusia. Siapa saja yang mencari ridha manusia, tetapi dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada manusia (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Masuk syurga sekeluarga

Masuk syurga sekeluarga






 

Paham al Qur'an


 

Paham Al Qur'an

 


TINGKATAN NAFSU MANUSIA

 

3 Tingkatan Manusia Dalam Melawan Hawa Nafsu, Imam Ghazali

Selasa 17 Nov 2020 23:14 WIB




REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Manusia disuruh melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Usaha manusia dalam perjuangan melawan hawa nafsu ini tentu bertingkat-tingkat, tergantung pada kemampuan dan kekuatan imannya. 

Dalam buku Mizan al-'Amal, Imam Ghazali menyebutkan tiga tingkatan manusia dalam masalah ini.

Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. Dengan begitu, ia sungguh telah mempertuhankan hawa nafsunya seperti dimaksud ayat ini:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ 

''Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.'' (Al-Jatsiyah: 23).

Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada suatu kali ia menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid.

Dikatakan demikian, karena ia sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sesuai perintah Nabi SAW, ''Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.'' Ini merupakan tingkatan manusia yang tinggi di bawah para nabi dan wali-wali Allah.

Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. Menurut Ghazali, ini merupakan tingkatan para nabi dan wali-wali Allah. 

Dalam perjuangan melawan hawa nafsu, menurut Ghazali, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus, supaya ia jangan tertipu (ghurur). Kata Ghazali, banyak orang merasa telah bekerja dan berjuang untuk agama, nusa, dan bangsa, padahal sesungguhnya ia bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan untuk memuaskan egonya.

Sikap waspada juga diperlukan karena sering timbul kerancuan (iltibas) antara perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). Berbeda dengan nafsu, akal secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan.

Dalam situasi demikian, Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan. Alasannya, kebaikan pada umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Kata Nabi Muhammad SAW: 

حُجِبَتِ الجنَّةُ بالمكَارِهِ و حُجِبتِ النَّارُ بالشَّهواتِ   

''Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.

IMAM GHAZALI (Cara Melawan Hawa Nafsu)

 

3 Cara Meredam Nafsu Syahwat Menurut Imam Al-Ghazali

Rusman Siregar

loading...

Hawa nafsu adalah aspek ruhaniyah yang mempengaruhi moral seseorang. Nafsu memiliki tiga macam yaitu nafsu ammarah, nafsu lawwamah dan nafsu muthmainnah. Sedangkan hawa artinya apa yang disukai nafsu (jiwa).

Hakikat syahwat adalah keinginan yang cenderung kepada sesuatu. Memenuhi hawa nafsu sebenarnya tidak dicela selama ia ditempatkan di jalan yang benar seperti bersenggama dengan istri.

Namun, hawa nafsu manusia cenderung menyebabkan seorang menjadi dengki, marah, benci, suka dan sifat tercela lainnya. Adapun nafsu syahwat sering membawa manusia hingga melampaui batas dan melanggar syariat Allah.

Bagaimana cara mengendalikan nafsu syahwat ini? Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (1058-1111) dalam kitab populernya Ihya 'Ulumuddin memberikan tips untuk melemahkan nafsu syahwat.


3 Cara untuk Melemahkan Nafsu Syahwat:
1. Memutuskan keterikatan.
Kita terikat kepada benda yang menguatkan nafsu syahwat. Maka, tidak boleh tidak, kita harus belajar memutuskan keterikatan itu. Misalnya, keterikatan kepada makanan diputus dengan berpuasa.

2. Memadamkan api.

Sesungguhnya nafsu syahwat itu dapat berkobar dengan pandangan kepada hal-hal yang dapat memancing nafsu syahwat. Rasulullah SAW bersabda, "Pandangan itu adalah salah satu panah beracun dari panah-panah iblis." Menjaga pandangan dari hal-hal tercela, menjaga telinga dari ucapan-ucapan kotor, menjaga langkah kaki dari tempat-tempat yang tidak pantas, menjaga pikiran dari bacaan-bacaan yang tidak bermanfaat, merupakan langkah-langkah memadamkan api nafsu syahwat.

3. Mencari jalan yang halal.
Setiap manusia tentu memiliki kebutuhan jasmaniah yang harus dipenuhi, baik makanan, pakaian, maupun pasangan. Maka semua itu dapat dipenuhi dengan menjaga diri dengan syari’at yang kuat, yakni mencari jalan yang halal atas setiap kebutuhan hidup.

​Inilah tiga jalan yang mampu melemahkan tentara nafsu syahwat. Langkah pertama seperti halnya memutuskan makanan bagi anjing yang ganas supaya ia lemah, lalu hilanglah kekuatannya. Langkah kedua mencegah anjing yang ganas itu agar tidak mencium bau amis daging dan darah, sehingga perut sang hewan tidak tergerak lantaran melihat dan mencium makanan kesukaannya. Langkah ketiga menghias diri dengan sesuatu yang sedikit, mencukupkan diri dengan yang halal, dari kebutuhan tabiat manusia.

Adapun jalan untuk menguatkan agama:

1. Menuntut ilmu.
Ilmu adalah cahaya. Cahaya yang memadamkan kegelapan dan menerangi hati. Mengetahui kelebihan dan keutamaan sabar bagi kehidupan di dunia dan akhirat, merupakan salah satu ilmu yang bermanfaat dan menguatkan agama. Dengan pengetahuan tentang sabar, seseorang menjadi paham makna musibah.

2. Belajar mujahadah.
Hendaknya kita membiasakan diri berperang melawan pembangkit hawa nafsu secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, hingga ia memperoleh lezatnya kemenangan sebuah pertempuran. Dengan demikian muncul keberanian dan kuatnya tekad ketika berjuang melawan hawa nafsu tersebut.

MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

oleh : Yaya Rosiahhayati


Berbicara tentang manusia berarti kita berbicara tentang dan pada diri kita sendiri makhluk yang paling unik di bumi ini. Banyak di antara ciptaan Allah yang telah disampaikan lewat wahyu yaitu kitab suci. Manusia merupakan makhluk yang paling istimewa dibandingkan dengan makhluk yang lain. Manusia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Kelebihan itu adalah dikaruniainya akal. Dengan dikarunia akal, manusia dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola alam semesta ciptaan Allah adalah sebagai amanah. Selain itu manusia juga dilengakapi unsur lain yaitu qolbu (hati). Dengan qolbu
 manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran Ilahi secara spiritual.
Secara etimologi, menurut Raghib Ashfahaniy akal memiliki arti al-Imsak (menahan), ar-Ribath (ikatan), al-Hajr (menahan), an-Nahi (malarang), dan al-Man’u (mencegah). Sedangkan secara terminologi, akal adalah segala potensi yang ada pada diri manusia yang disiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan, mampu menahan dan mengikat hawa nafsu. Akal memiliki dua makna yaitu : 1) Akal jasmani, salah satu oragan tubuh yang lazim disebut dengan otak. 2) akal ruhani, cahaya nurani yang dipersiapkan oleh Allah SWT yang berpotensi untuk memperoleh pengetahuan dan kognisi melalui proses membaca dan berfikir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akal merupakan daya pikir manusia untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat rasional dan dapat menentukan eksistensi manusia.
Selain akal manusia juga dibekali akan qalb (hati), secara bahasa qalb berarti bolak-balik, dan ini menjadi karakteristik dari hati itu sendiri yang memiliki sifat tidak konsisten dan perlu adanya pengelolahan tersendiri dengan bantuan nur ilahi. Al-Ghazali melihat pengertian qalb dari dua aspek, yaitu aspek jasmani dan aspek ruhani. Qalb jasmani adalah organ tubuh yang berbentuk seperti jantung pisang yang terletak di dalam dada sebelah kiri. Sedangkan qalb ruhani adalah sesuatu yang bersifat halus, ruhaniah, dan ketuhanan juga memiliki potensi afektif, iman, dzikir, taqwa.
Al-qur’an menggunakan term qalb dan fu’ad untuk menyebut hati manusia ketika dalam keadaan ketentraman dan keyakinan. Sedangkan penggunaan kata shadr yang berarti dada atau depan untuk menyebutkan keadaan suasana hati dan jiwa sebagai satu kesatuan psikologis dalam kondisi yang lapang dan tak terbebani maupun sempit dan sedih. Tetapi al-Qur’an menggunakan term qalb untuk menyebutkan akal ketika qalb fi shadr dalam keadaan buta yang tidak mampu memahami realitas dan nilai kehidupan.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain, dengan memiliki potensi akal, qolbu dan potensi-potensi lain untuk digunakan sebagai modal mengembangkan kehidupan.
Di dalam al-Quran terdapat tiga istilah kunci (key term) yang meskipun mengacu pada makna pokok manusia, tetapi memiliki makna signifikan yang berbeda-beda. Ketiga istilah kunci itu adalah BasyarInsan, dan al-Nas.

1. Basyar
Kata basyar disebut dalam al-Quran 35 kali dikaitkan dengan manusia dan 25 kali dihubungkan dengan nabi-rasul. Kata basyar pada keseluruhan ayat tersebut memberikan referensi kepada manusia sebagai makhluk biologis. Salah satunya pada surah Yusuf ayat 31

فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيم

 “Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepadanya (keelokan rupanya) dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia (basyar). Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”. (Q.S.Yusuf : 31)
Ayat ini menceritakan wanita-wanita pembesar Mesir yang diundang Zulaikha dalam suatu pertemuan yang takjub ketika melihat ketampanan Yusuf as. Konteks ayat ini tidak memandang Yusuf as dari segi moralitas atau intelektualitasnya, melainkan pada perawakannya yang tampan dan penampilannya yang mempesona yang tidak lain adalah masalah biologis.
Pada ayat lain juga manusia disebut dengan kata basyar dalam konteks sebagai makhluk biologis yaitu pada ayat yang menceritakan jawaban Maryam (perawan) kepada malaikat yang datang padanya membawa pesan Tuhan bahwa ia akan dikaruniai seorang anak. Allah SWT berfirman dalam surat maryam ali Imran ayat 47

قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَر

 “Maryam berkata: Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak padahal aku tidak pernah disentuh manusia (basyar)”. (Q.S.Ali Imran : 47)
Maryam berkata demikian sebab dia tahu bahwa yang dapat menyentuh (hubungan seksual) itu hanya manusia dalam arti makhluk biologis, dan anak adalah buah dari hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan . Nalar Maryam tidak menerima, bagaimana mungkin dia akan punya anak padahal dia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki.
Penolakan orang-orang kafir untuk beriman, juga karena pandangan mereka terhadap seorang rasul yang hanya pada sisi biologisnya saja. Yakni  sebagai manusia yang sama seperti mereka yang makan, minum, jalan-jalan di pasar, dan melakukan aktifitas lainnya. Mereka tidak mempertimbangkan aspek lain dari seorang rasul seperti kapasitas, moralitas, kredibilitas kepribadiannya, dan akseptabilitas di mata umatnya. Karena itu Allah SWT menyuruh Rasulullah SAW untuk menegaskan bahwa secara biologis ia memang seperti manusia biasa, tetapi memiliki perbedaan dari yang lain yaitu penunjukan langsung dari Tuhan untuk menyampaikan risalah-Nya. Dan dari sisi inilah Rasulullah menjadi manusia luar biasa.
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَي

 “Katakanlah (Muhammad kepada mereka bahwa) aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu. Hanya saja aku diberi wahyu”.  (Q.S.Al-Kahfi : 110)

Beberapa ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat ketubuhan (biologis) manusia yang mempunyai bentuk atau postur tubuh, mengalami pertumbuhan dan perkembangan jasmani, makan, minum, melakukan hubungan seksual, bercinta, berjalan-jalan di pasar, dan lain-lain. Dengan kata lain, basyar dipakai untuk menunjuk dimensi alamiah yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya. Fitrah manusia memang bergerak dan dinamis untuk memenuhi aspek-aspek kebutuhan biologis ini Allah SWT memberikan aturan syariah yang benar agar manusia senantiasa mendapat ridha Allah dan menjadi manusia yang sempurna (insan kamil).

2. Al-Insan
Kata al-insan disebut sebanyak 65 kali dalam al-Quran. Hampir semua ayat yang menyebut manusia dengan kata insan, konteksnya selalu menampilkan manusia sebagai makhluk istimewa, secara moral maupun spiritual. Keistimewaan  itu tidak dimiliki oleh makhluk lain. Jalaludin Rahmat memberi penjabaran al-insan secara luas pada tiga kategori. Pertama, al-insan dihubungkan dengan keistimewaan manusia sebagai khalifah dan pemikul amanah. Kedua, al-insan dikaitkan dengan predisposisi negatif yang inheren dan laten pada diri manusia. Ketiga, al-insan disebut dalam hubungannya dengan proses penciptaan manusia. Kecuali kategori ketiga, semua konteks al-insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual. Kategori pertama dapat difahami melalui empat penjelasan sebagai berikut :
1.      Manusia dipandang sebagai makhluk unggulan atau puncak penciptaan Tuhan. Keunggulannya terletak pada wujud kejadiannya sebagai makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan. Manusia juga disebut sebagai makhluk yang dipilih Tuhan untuk mengemban tugas kekhalifahan di muka bumi.
2.       Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dipercaya Tuhan untuk mengemban amanah, suatu beban sekaligus tanggung jawabnya sebagai makhluk yang dipercaya dan diberi mandat untuk mengelola bumi. Menurut Fazlurrahman amanah yang dimaksud terkait dengan fungsi kreatif manusia untuk menemukan hukum alam, menguasainya (dalam bahasa al-Quran mengetahui nama-nama semua benda), dan kemudian menggunakannya dengan insiatif moral untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih baik. Sedangkan menurut Thabathaba’i amanah dimaknai sebagai predisposisi positif (isti’dad) untuk beriman dan mentaati Allah. Dengan kata lain manusia didisposisikan sebagai pemikul al-wilayah al-Ilahiyah. Amanah inilah yang dalam ayat-ayat lain disebut sebagai perjanjian primordial atau perenial. Secara metaforis perjanjian itu digambarkan dalam al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belulang) anak cucu Adam keturunan mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman) : Bukankah Aku ini Tuhanmu?. Kami bersaksi”. (Q.S.al-A’raf : 172)
3.      Merupakan konsekuensi dari tugas berat sebagai khalifah dan pemikul amanah, manusia dibekali dengan akal kreatif yang melahirkan nalar kreatif sehingga manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena itu berkali-kali kata al-insan dihubungkan dengan perintah melakukan nadzar (pengamatan, perenungan, pemikiran, analisa) dalam rangka menunjukkan  kualitas pemikiran rasional dan kesadaran khusus yang dimilikinya. Tugas kekhalifahan dan amanah juga membawa konsekuensi bahwa al-insan dibebani atau dihubungkan dengan konsep tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Manusia diwasiatkan agar berbuat baik karena setiap amal perbuatannya dicatat dengan cermat dan mendapat balasan setimpal. Dan dalam rangka ini, manusia diingatkan dengan sejumlah tantangan karena insanlah yang dimusuhi syetan dan ditentukan nasibnya di hari kiamat.
4.      Dalam mengabdi kepada Allah manusia (al-insan) sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan kondisi psikologisnya. Jika ditimpa musibah ia selalu menyebut nama Allah. Sebaliknya jika mendapat keberuntungan dan kesuksesan hidup cenderung sombong, takabbur, dan musyrik.

Kategori kedua al-insan dikaitkan dengan predisposisi negatif pada dirinya, dijelaskan dalam al-Quran bahwa manusia itu cenderung berbuat zalim dan kufur, tergesa-gesa, bakhil, bodoh, banyak membantah dan suka berdebat tentang hal-hal yang sepele sekalipun, resah gelisah dan enggan membantu orang lain, ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita, ingkar dan enggan berterima kasih kepada Tuhan, suka berbuat dosa dan meragukan hari akhirat.
Sifat-sifat manusia pada pada kategori kedua ini bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama, memberi kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang paradoksal, yang berjuang mengatasi konflik dan kekuatan yang saling bertentangan ; tarik menarik antara mengikuti fitrah (memikul amanah dan menjadi khalifah) dan mengikuti nafsu negatif dan merusak. Kedua kekuatan itu digambarkan dalam asal usul kejadian manusia yang dalam bahasa Yusuf Qardawi baina qabdhat al-tin wa nafkhat al-ruh.

3. An-Nas
Konsep an-Nas mengacu pada manusia sebagi makhluk sosial. Manusia dalam arti al-nas paling banyak disebut al-Quran yaitu sebanyak 240 kali. Salah satunya adalah :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Wahai manusia sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal”. (Q.S.al-Hujurat : 13)
Menariknya dalam mengungkapkan manusia sebagai makhluk sosial, al-Quran tidak pernah melakukan generalisasi, melainkan ditunjukkan dengan dua model pengungkapan :
  1. Dengan menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan disertai karakteristik masing-masing yang berbeda satu sama lain. Ayat-ayatnya biasanya menggunakan ungkapan wa min al-nas (dan diantara manusia). Jika diperhatikan ayat-ayat yang menggunakan ungkapan ini ditemukan petunjuk bahwa ada kelompok manusia (tidak seluruhnya) yang mengaku beriman padahal sesungguhnya tidak beriman, ada sebagian manusia mengambil sesembahan selain Allah. Juga didapat informasi bahwa manusia secara sosial cenderung memikirkan kehidupan dunia, berdebat dengan Allah tanpa ilmu, petunjuk dan kitab Allah, yang menyembah Allah dengan iman yang lemah.
  2. Dengan mengelompokkan manusia berdasarkan mayoritas yang umumnya menggunakan ungkapan aktsaran-nas (sebagian besar manusia). Memperhatikan ungkapan ini ditemukan petunjuk dari al-Quran bahwa sebagian besar (mayoritas) manusia mempunyai kualitas rendah, dari sisi ilmu maupun iman. Hal ini dapat dilihat dari ayat-ayatnya yang menyatakan bahwa kebanyakan manusia tidak berilmu, tidak bersyukur, tidak beriman, fasiq, melalaikan ayat-ayat Allah, kufur, dan harus menanggung azab. Kesimpulan itu dipertegas dengan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa sangat sedikit kelompok manusia yang beriman, yang berilmu dan dapat mengambil pelajaran, yang mau bersyukur atas nikmat Allah.
Demikian banyaknya penyebutan kata al-nas dalam al-Quran – jika dikaitkan dengan al-Quran sebagai petunjuk – menunjukkan bahwa sebagian besar bimbingan Tuhan  diperuntukkan bagi manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai contoh adalah masalah perkawinan. Dalam al-Quran Tuhan tidak mengatur tata cara hubungan seksual, karena sebagai makhluk biologis semua manusia betapapun primitifnya bisa melakukannya. Justru yang dipandang perlu untuk diatur Tuhan adalah hubungan sosial pasca perkawinan meliputi hak, kewajiban, tanggung jawab suami istri dalam rumah tangga dan hubungan yang terjadi setelah berkeluarga mencakup pendidikan anak, kekerabatan, warisan dan masalah yang berkaitan dengan kekayaan. Perlunya pengaturan karena pada aspek-aspek sosial manusia sering kelewat batas dan tak terkendali. 

Sholawat Syahdu lama

Ya Allah dengan fadhilah dan washilah sholawat ini, kabulkan lah doa-doa dan harapan ku serta mudahkan lah untuk menggapai nya, Aamiin


 

Adab Mengajarkan Ilmu: Membangkitkan Harapan Dan Sikap Optimis

 

Membangkitkan Harapan Dan Sikap Optimis

Ilmu kediaman tempat yang agung dalam Islam. Islam pun mengajarkan adab menerapkan ilmu. Tentu agar terlihat dan keberkahaannya bisa diraih secara optimal. Salah satunya, seseorang ditegaskan dalam Min Muqawwimât an-Nafsiyyah al-Islâmiyyah :

بَثَّ اْلأَمَلَ دَائِمًا وَعَدَمَ التَّقْنِيْطِ وَالتَّيْئِيْسِ لاَ مِنْ رَحْمَةِ الله سُبْحَانَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ مِصونف

Senantiasa membangkitkan harapan dan tidak membuat putus asa, baik dari rahmat Allah, pertolongan-Nya, atau dari kelapangan-Nya.

 

Membangkitan harapan adalah dengan hal-hal yang bisa menenteramkan orang yang diseru dan mempengaruhi jiwanya. Maksud ini tak akan bisa diraih kecuali dengan menyisipkan pesan-pesan dalam al-Quran dan as-Sunah. Hal itu bisa didukung dengan mengaitkan nas-nas al-Quran dan as-Sunnah dengan beragam fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Tatkala terjadi krisis penghidupan mengikuti berbagai bencana alam, misalnya, sebagai akibat dari akibatnya masyarakat dari syariah, maka bisa memberikan peringatan dalam QS Thâhâ [20]: 124 dan QS ar-Rûm [30]: 41. Tidak berhenti pada tataran tarhiib (peringatan ), tetapi juga mengikuti dengan penjelasan solusi Islam, hingga lebih meyakinkan jiwa yang lalai untuk kembali kepada syariah-Nya:

لِسَانُ اْلحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ اْلمقَالِ

Bahasa keadaan lebih fasih (menunjukkan) realita memberikan bahasa lisan semata.    

 

Disampaikan juga seruan kepada kaum Muslim dengan firman Allah 'Azza wa Jalla :

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَدۡعون ولهون وَلهون وَلهون وَلهمونَ

Hendaklah ada di antara kalian golongan yang menyerukan, minta kemakrufan dan larangan kemungkaran, dan mereka adalah orang-orang yang beruntung (QS آ li Imrân [3]: 104).

 

Disampaikan pula kepada mereka dengan as-Sunnah, seperti hadis-hadis yang menjelaskan tentang akhirat umat ini. Misalnya dengan hadis dari Durrah binti Abi Lahab, yang berkata: Seseorang berdiri ketika Rasulullah saw. di atas mimbar, lalu bertanya: “Siapakah sebaik-baik-baik manusia?” Beliau melihat. menjawab:

خَيْرُ النَّاسِ أَقْرَؤُهُمْ وَأَتْقَاهُمْ وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنْهَاهُمْ عَمنِ الْمُصنَّحلَر عوِأم

Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling taat, paling bertakwa di antara mereka, paling banyak menyuruh kemakrufan dan melarang kemungkaran dan paling banyak silaturahmi. (HR Ahmad dan ath-Thabrani).

 

Bisa juga disampaikan kabar gembira dari Rasul saw. tentang kembalinya Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian, penaklukan Konstantinopel dan Roma, peperangan dengan Yahudi dan terbunuhnya mereka, masuknya Khilafah ke tanah yang disucikan (Baitul Maqdis), berjayanya kembali kaum Muslim di akhir zaman, akan tegaknya kepemimpinan Khalifah al-Mahdi, turunnya Isa bin Maryam as., dan lain sebagainya. Itu semua perlu disampaikan dalam bangun kepada kaum Muslim untuk membangkitkan pengharapan mereka pada terbitnya kebangkitan kebangkitan Islam dan kaum Muslim. Rasulullah melihat. bersabda:

إن الله زوى لي الأرض, فرأيت مشارقها ومغاربها وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها, وأعطيت الكنزين: الأحمر والأبيض

Sesungguhnya Allah SWT telah mengumpulkan (dan menyerahkan) bumi kepadaku sehingga aku bisa menyaksikan timur dan baratnya. Sesungguhnya Kekuasaan umatku akan mencapai APA Yang Telah dikumpulkan Dan Diserahkan kepadaku darinya, Dan aku dianugerahi doa pembendaharaan, yakni merah (emas) Dan putih (perak) (HR Muslim Dan Ahmad).

 

Disampaikan pula untaian kisah-kisah agung, sejarah kaum Muslim, seperti kisah perjuangan dakwah Rasulullah saw. dan para sahabatnya; Kisah-kisah kemenangan mereka pada Perang Badar, Khandaq, al-Qadisiyah, Nahawand, Yarmuk, Ajnadin, Perang Tartar, 'Ain Jalut, dan berbagai futuhat agung yang tak tergesa-gesa. Itu semua di sampaikan dengan nuansa penuh keimanan dan heroik.

Dalam penuturan kisah-kisah agung di atas, misalnya, sebagian besar keyakinan kaum Muslim pada pertolongan Allah, meskipun jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan musuh. Kisah-kisah agung Penyanyi Harus diarahkan untuk review mensakralisasi Dan mengkristalisasi pemahaman dakwah Dan jihad yang Benar hearts benak kaum Muslim, Bukan sekadar cerita Sejarah, apalagi di- framing sebagaimana framing Sesat kaum liberal.

Penting untuk diperhatikan bahwa itu semua perlu diawali dengan penanaman akidah Islam sebagai akidah ruhiyyah dan siyasiyyah dalam jiwa. Akidah ini memancarkan berbagai peraturan. Pemeluknya wajib terikat pada akidah ini tatkala menjalani kehidupan, keluar mereka dari kegelapan menuju cahaya kebenaran ( min al-zhulumât ilâ al-nûr ). Akidah inilah yang menjadi perjuangan para pejuang Islam hingga menjadikan pemeluknya sebagai khayr ummah (sebaik-baik umat).

Itu semua perlu disokong oleh adab selanjutnya tatkala memberikan perlindungan dan penerangan:

إِحْسَانُ اِخْتِيَارِ مَوَاضِيِعِ الدُّرُوُسِ حَسْبَ الْوَاقِعِ الَّذِيْ يَعِيْشُ النَّاسُ

Pandai memilih topik pelajaran sesuai dengan fakta kehidupan manusia.

 

Salah satu yang terpenting adalah kecermatan seorang pengajar / pengemban dakwah mengawali pembicaraan dengan topik yang paling sesuai dengan realita kehidupan manusia. Poin akhirnya diarahkan ke kembali pada solusi Islam. Hal ini lamaran dengan bahasa yang mudah berhubungan dengan objek yang diajak bicara, berhubungan dengan prinsip berbahasa:

لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ

Untuk setiap keadaan itu ada tutur kata yang sesuai .

 

Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga agar pelajaran yang diberikan terasa hidup. Dengan begitu orang yang mendengarkan lebih tertarik dan lebih mudah diarahkan serta dipahamkan. Perhatikan pula, jika masyarakat tampak sedang membutuhkan pemantapan akidah, maka hal itu perlu dilakukan. Jika umat terlihat sedang disesatkan oleh sikap politik tertentu, maka masalah itu harus. Jika telah tertanam pemikiran yang salah bahkan sesat menyesatkan, maka harus dipaparkan kesalahan dan kesesatannya, sekaligus pandangan yang benar. Demikian dikatakan oleh al-Qadhi Taqiyyuddin al-Nabhani, seperti meletakkan garis lurus disamping garis yang bengkok, hingga jelas perbedaannya.

Tidak terpuji jika seorang da'i fokus memilih topik pelajaran tentang al-khulu ' (perceraian atas permintaan istri), sementara negara-negara imperialis, misalnya, sedang ramai diberitakan memporakporandakan negeri-negeri kaum Muslim. Atau ia memilih topik, “Hukum Duduk untuk Takziyah” pada saat minyak bumi kaum Muslim sedang dijarah musuh. ATAU membahas hukum-hukum TENTANG Rambut, padahal Ajaran Islam semisal Khilafah sedang di- framing buruk sedemikian rupa, Dan Yang semisalnya. Hal ini keteladanan para ulama dalam memperhatikan prioritas dakwah ( al-awlawiyyat ).

Itu semua perlu diuraikan dengan bahasa yang wajib tak terkalahkan dengan kemampuan pikiran mereka, siapkan pikiran:

مُخَاطَبَة النَّاسِ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ

Menyeru manusia sesuai dengan kadar pikirannya.

 

Ali ra. ke:

حَدِّثُوْا النَّاسَ ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّوْنَ أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ ، اللهُ وَرَسُولُه

Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka ketahui, apakah engkau suka Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR al-Bukhari).

 

Al-Hafizh Ibn Hajar al-'Asqalani kalimat dalam Al-Fath , “Yang dimaksud dengan kata bimâ ya'rifûn, adalah bima yafhamûn (sesuatu yang mereka pahami) . 

Abdullah bin Mas'ud ra. juga berkata:

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تَبْلُغُهُ عُقُوْلُهُمْ ، إِلا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً

Tidaklah berbicara dengan berbicara kepada suatu kaum dengan pembicaraan yang tidak berbicara dengan mereka, kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka (HR Muslim).

 

Dengan memperhatikan ketiga adab atasan di atas, bisa dioptimalkan proses pembinaan masyarakat.

Wa bilLâhi at-tawfîq. [Irfan Abu Naveed]

SMARTER

Mimpi besar insya Allah dapat terwujud bila memenuhi konsep SMARTER Beberapa orang menganggap bahwa smart disamakan dengan istilah KPI (Key ...