Ilmu kediaman tempat yang agung dalam Islam. Islam pun mengajarkan adab menerapkan ilmu. Tentu agar terlihat dan keberkahaannya bisa diraih secara optimal. Salah satunya, seseorang ditegaskan dalam Min Muqawwimât an-Nafsiyyah al-Islâmiyyah :
Senantiasa membangkitkan harapan dan tidak membuat putus asa, baik dari rahmat Allah, pertolongan-Nya, atau dari kelapangan-Nya.
Membangkitan harapan adalah dengan hal-hal yang bisa menenteramkan orang yang diseru dan mempengaruhi jiwanya. Maksud ini tak akan bisa diraih kecuali dengan menyisipkan pesan-pesan dalam al-Quran dan as-Sunah. Hal itu bisa didukung dengan mengaitkan nas-nas al-Quran dan as-Sunnah dengan beragam fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Tatkala terjadi krisis penghidupan mengikuti berbagai bencana alam, misalnya, sebagai akibat dari akibatnya masyarakat dari syariah, maka bisa memberikan peringatan dalam QS Thâhâ [20]: 124 dan QS ar-Rûm [30]: 41. Tidak berhenti pada tataran tarhiib (peringatan ), tetapi juga mengikuti dengan penjelasan solusi Islam, hingga lebih meyakinkan jiwa yang lalai untuk kembali kepada syariah-Nya:
لِسَانُ اْلحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ اْلمقَالِ
Bahasa keadaan lebih fasih (menunjukkan) realita memberikan bahasa lisan semata.
Disampaikan juga seruan kepada kaum Muslim dengan firman Allah 'Azza wa Jalla :
Hendaklah ada di antara kalian golongan yang menyerukan, minta kemakrufan dan larangan kemungkaran, dan mereka adalah orang-orang yang beruntung (QS آ li Imrân [3]: 104).
Disampaikan pula kepada mereka dengan as-Sunnah, seperti hadis-hadis yang menjelaskan tentang akhirat umat ini. Misalnya dengan hadis dari Durrah binti Abi Lahab, yang berkata: Seseorang berdiri ketika Rasulullah saw. di atas mimbar, lalu bertanya: “Siapakah sebaik-baik-baik manusia?” Beliau melihat. menjawab:
Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling taat, paling bertakwa di antara mereka, paling banyak menyuruh kemakrufan dan melarang kemungkaran dan paling banyak silaturahmi. (HR Ahmad dan ath-Thabrani).
Bisa juga disampaikan kabar gembira dari Rasul saw. tentang kembalinya Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian, penaklukan Konstantinopel dan Roma, peperangan dengan Yahudi dan terbunuhnya mereka, masuknya Khilafah ke tanah yang disucikan (Baitul Maqdis), berjayanya kembali kaum Muslim di akhir zaman, akan tegaknya kepemimpinan Khalifah al-Mahdi, turunnya Isa bin Maryam as., dan lain sebagainya. Itu semua perlu disampaikan dalam bangun kepada kaum Muslim untuk membangkitkan pengharapan mereka pada terbitnya kebangkitan kebangkitan Islam dan kaum Muslim. Rasulullah melihat. bersabda:
إن الله زوى لي الأرض, فرأيت مشارقها ومغاربها وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها, وأعطيت الكنزين: الأحمر والأبيض
Sesungguhnya Allah SWT telah mengumpulkan (dan menyerahkan) bumi kepadaku sehingga aku bisa menyaksikan timur dan baratnya. Sesungguhnya Kekuasaan umatku akan mencapai APA Yang Telah dikumpulkan Dan Diserahkan kepadaku darinya, Dan aku dianugerahi doa pembendaharaan, yakni merah (emas) Dan putih (perak) (HR Muslim Dan Ahmad).
Disampaikan pula untaian kisah-kisah agung, sejarah kaum Muslim, seperti kisah perjuangan dakwah Rasulullah saw. dan para sahabatnya; Kisah-kisah kemenangan mereka pada Perang Badar, Khandaq, al-Qadisiyah, Nahawand, Yarmuk, Ajnadin, Perang Tartar, 'Ain Jalut, dan berbagai futuhat agung yang tak tergesa-gesa. Itu semua di sampaikan dengan nuansa penuh keimanan dan heroik.
Dalam penuturan kisah-kisah agung di atas, misalnya, sebagian besar keyakinan kaum Muslim pada pertolongan Allah, meskipun jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan musuh. Kisah-kisah agung Penyanyi Harus diarahkan untuk review mensakralisasi Dan mengkristalisasi pemahaman dakwah Dan jihad yang Benar hearts benak kaum Muslim, Bukan sekadar cerita Sejarah, apalagi di- framing sebagaimana framing Sesat kaum liberal.
Penting untuk diperhatikan bahwa itu semua perlu diawali dengan penanaman akidah Islam sebagai akidah ruhiyyah dan siyasiyyah dalam jiwa. Akidah ini memancarkan berbagai peraturan. Pemeluknya wajib terikat pada akidah ini tatkala menjalani kehidupan, keluar mereka dari kegelapan menuju cahaya kebenaran ( min al-zhulumât ilâ al-nûr ). Akidah inilah yang menjadi perjuangan para pejuang Islam hingga menjadikan pemeluknya sebagai khayr ummah (sebaik-baik umat).
Itu semua perlu disokong oleh adab selanjutnya tatkala memberikan perlindungan dan penerangan:
Pandai memilih topik pelajaran sesuai dengan fakta kehidupan manusia.
Salah satu yang terpenting adalah kecermatan seorang pengajar / pengemban dakwah mengawali pembicaraan dengan topik yang paling sesuai dengan realita kehidupan manusia. Poin akhirnya diarahkan ke kembali pada solusi Islam. Hal ini lamaran dengan bahasa yang mudah berhubungan dengan objek yang diajak bicara, berhubungan dengan prinsip berbahasa:
لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ
Untuk setiap keadaan itu ada tutur kata yang sesuai .
Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga agar pelajaran yang diberikan terasa hidup. Dengan begitu orang yang mendengarkan lebih tertarik dan lebih mudah diarahkan serta dipahamkan. Perhatikan pula, jika masyarakat tampak sedang membutuhkan pemantapan akidah, maka hal itu perlu dilakukan. Jika umat terlihat sedang disesatkan oleh sikap politik tertentu, maka masalah itu harus. Jika telah tertanam pemikiran yang salah bahkan sesat menyesatkan, maka harus dipaparkan kesalahan dan kesesatannya, sekaligus pandangan yang benar. Demikian dikatakan oleh al-Qadhi Taqiyyuddin al-Nabhani, seperti meletakkan garis lurus disamping garis yang bengkok, hingga jelas perbedaannya.
Tidak terpuji jika seorang da'i fokus memilih topik pelajaran tentang al-khulu ' (perceraian atas permintaan istri), sementara negara-negara imperialis, misalnya, sedang ramai diberitakan memporakporandakan negeri-negeri kaum Muslim. Atau ia memilih topik, “Hukum Duduk untuk Takziyah” pada saat minyak bumi kaum Muslim sedang dijarah musuh. ATAU membahas hukum-hukum TENTANG Rambut, padahal Ajaran Islam semisal Khilafah sedang di- framing buruk sedemikian rupa, Dan Yang semisalnya. Hal ini keteladanan para ulama dalam memperhatikan prioritas dakwah ( al-awlawiyyat ).
Itu semua perlu diuraikan dengan bahasa yang wajib tak terkalahkan dengan kemampuan pikiran mereka, siapkan pikiran:
Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka ketahui, apakah engkau suka Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR al-Bukhari).
Al-Hafizh Ibn Hajar al-'Asqalani kalimat dalam Al-Fath , “Yang dimaksud dengan kata bimâ ya'rifûn, adalah bima yafhamûn (sesuatu yang mereka pahami) . ”
Tidaklah berbicara dengan berbicara kepada suatu kaum dengan pembicaraan yang tidak berbicara dengan mereka, kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka (HR Muslim).
Dengan memperhatikan ketiga adab atasan di atas, bisa dioptimalkan proses pembinaan masyarakat.
Pada suatu hari Nabi Muhammad Saw pernah mengajarkan Doa
yang masyhur pada seorang pemuda bernama Abu Umamah radhiallahu 'anhu (RA) yang sedang
termenung di dalam masjid dan raut wajah nya menunjukan duka yang dalam.
Setelah ditanya oleh Rasulullah Saw. berceritalah
pemuda itu bahwa dirinya tengah bersusah hati karena dililit hutang.
Maka Rasulullah Saw. mengajarinya doa seperti dibawah
ini:
Artinya : “Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari kesusahan dan kedukaan, aku berlindung kepada-Mu dari lemah dan
malas, aku berlindung kepada-Mu dari takut (miskin) dan bakhil, aku berlindung
kepada-Mu dari banyaknya hutang dan paksaan orang-orang”
Dari doa tersebut diatas Rasulullah
mengajarkan pada kita bahwa ada delapan perkara yang membuat manusia tidak
bahagia dalam hidup nya, yaitu :
1.Kesusahan
2. Kedukaan
3. lemah
4. malas
5. Pengecut
6. Bakhil,
senang menumpuk harta dan berat sekali bersedekah
7. Berhutang
8. Bearada
dalam paksaan/penguasaan orang-orang
Agar kitapun terhindar dari delapan
perkara yang tidak menguntungkan seperti diatas, maka sangat baik bila kita baca
doa tersebut diatas setiap hari sehabis sholat 5 waktu, sebanyak satu atau tiga
kali agar lebih segera terkabul.
Semoga Allah Swt. Melindungi kita dari segala
kesusahan karena terlilit hutang ataupun dari segala sifat-sifat buruk yang akan
menjauhkan kita dari Rahmat Allah Swt. Aamiin ya mujibuddu’a
Tahun 1989Stephen R. Covey, merilis sebuah buku pengembangan diri berjudul Seven Habits,Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. Terjual lebih dari 15 juta kopi dalam
38 bahasa sejak dipublikasikan, ditandai dengan dirilisnya edisi ulang tahun
ke-15 tahun 2004. Covey menyajikan pendekatan untuk menjadi efektif dalam mencapai tujuan dengan
menyelaraskan diri pada apa yang dia sebut sebagai prinsip etika karakter
yang menurutnya universal dan abadi.
Beruntunglah
kaum muslimin yang mencinati Rasulullah Saw dan berupaya sungguh-sungguh untuk mencontoh
perilaku nya sehari-sehari.
Ya,
tidak kurang dari 1.400 tahun lalu, jauh sebelum Stephen R. Covey
lahir kedunia, Nabi Muhammad Saw sudah memberi contoh pola hidup dan habit yang
menjakjubkan, tidak saja membuat sehat -sehingga semasa hidup nya tidak pernah
sakit-, tapi juga membuat “hidup menjadi lebih hidup”. Inilah 7(tujuh)
kebiasaan Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya yang dapat membangun kepribadian
manusia menjadi istimewa.
1.Bersegera ke Masjid untuk shalat berjamaah
Habit(kebiasaan)
ini tentu seruan khas untuk kaum adam, sementara kaum hawa bisa bersegera
sholat pada waktunya di rumah saja, itu lebih utama bagi nya. Inilah rahasia
membangun sikap disiplin tingkat tinggi yang akan membuat nya menjadi umat
terbaik(Khoiru Ummah) di muka bumi.
2.Shalat Tahajud
Ini
adalah kebiasaan Rasulullah yang tidak pernah ditinggalkan nya sampai akhir
hayat selama menjadi Nabi dan Rasul. Berduaan dimalam sunyi di peluk Dzat yang
Maha Suci. Pantas kalau Rasulullah enggan meninggalkan moment ini. Maka bila
kita mampu mencontoh nya insya Allah akan menangkat derajat kita dihadapan
Allah diatas manusia yang lain. Inilah cara membangun kedekapan pribadi dengan
al Kholiq agar kita mendapat tempat istimewa di sisi Nya.
3.Shalat Dhuha
Bisa
dilakukan mulai jam 06 s/d setengan jam sebelum dzuhur. Bila dikerjakan dengan istiqomah, insya Allah akan memudahkan datang rizqi yang halal dan thoyib. Sendi yang ada di tubuh manusia ada 360 sendi. Allah Swt menghendaki untuk disedekahi tiap sendi nya. Sebagai pengganti nya adalah dengan shalat dhuha.
4.Membaca Qur’an setiap hari
Nikmatilah
betapa dahsyatnya sensasi saat membaca larik-larik “surat cinta” yang dikirim dari
Yang Maha Pencinta”, dan Dzikir yang paling utama adalah membaca al Qur’an
dengan tartil, agar setiap huruf menjadi saksi saat di hisab.
5.Sedekah
Dalam
matematika sedekah, diketahui bahwa sesungguhnya harta kita yang akan kekal abadi
adalah yang disedekahkan dengan ikhlas. Itulah yang akan menyelamatkan kita
nanti dari hisab Allah yang Maha Cepat dan Akurat.
6.Menjaga wudlu
Dengan
terjaganya wudlu kita dari yang membatalkan, maka insya Allah dapat menahan
kita dari perbuatan maksyiat. Sehingga mata, telinga, dan hati terjaga pula
dari kerusakan. Ini juga dapat mengantarkan kita pada Syurga Allah.
7.Istighfar setiap saat,
Rasulullah SAW tidak pernah kurang
dari 70-100 kali beristighfar dalam sehari. Lafaz istighfar ada 3(tiga):
1. Lafaz “Astaghfirullaah” .
أَسْتَغْفِرُ الله
2. Lafaz " Subhaanallaahu wa Bihamdihi
Astaghfirullaah wa Atubu Ilaih ".
Pemutar-balikan fakta hampir terjadi di setiap babak sejarah Islam. Kejadian yang baik disusupi berita bohong dan palsu, kemudian dinilai menjadi kejadian buruk. Tokoh panutan ditampilkan menjadi antagonis yang layak dapat cercaan bahkan doa jelek. Masyarakat awam pun gamang, bagian mana dari sejarah Islam ini yang patut jadi teladan. Akhirnya, generasi muda Islam tumbuh dengan kekaguman dengan tokoh-tokoh penjajah yang jauh dari nilai-nilai Islam. Dan mereka benci dengan pahlawan-pahlawan yang memperjuangkan keluhuran agama mereka.
Di antara tokoh yang menjadi sasaran penghancuran karakter adalah Khalifah Abbasiyah Harun al-Rasyid rahimahullah. Para perusak sejarah Islam mencoba menggambarkan image Harun al-Rasyid dengan tampilan seorang pemabuk. Malam-malamnya adalah hidup foya-foya. Seorang diktator yang dikelilingi selir dan para penari. Mengapa image ini perlu ditampilkan? Karena beliau khalifah terbaik Abbasiyah. Pengibar bendera jihad dan sangat besar perhatian terhadap ilmu dan ulama. Seorang figur teladan yang ingin dibuat sebagai pecundang yang mengecewakan.
Harun al-Rasyid diangkat menjadi khalifah pada malam sabtu 16 Rabiul Awal 170 H. Bertepatan dengan 14 September 786 M. Ia menggantikan kedudukan ayahnya yang wafat, Khalifah al-Mahdi. Saat diangkat menjadi pimpinan tertinggi kerajaan, Harun al-Rasyid baru menginjak usia 25 tahun.
Memuliakan Ulama
Harun al-Rasyid adalah seorang raja yang dikenal memuliakan ulama. Ia begitu mengagungkan agamanya. Tidak suka perdebatan dan banyak bicara. Dan ia sangat mencintai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam beberapa risalahnya, Al-Qadhi Iyadh, memiliki kesan yang mendalam pada figur Harun al-Rasyid. Beliau mengatakan, “Tidak kuketahui seorang raja pun yang bersafar menempuh perjalanan belajar kecuali al-Rasyid. Ia berjalan bersama dua orang anaknya al-Amin dan al-Makmun, untuk mendengar kajian al-Muwaththa yang disampaikan oleh Imam malik rahimahullah.”
Saat akhir hayat sang khalifah, Abdullah bin al-Mubarak bersedih. Ia duduk penuh duka. Sampai orang-orang pun menghiburnya. Abdullah bin al-Mubarak adalah seorang ulama tabi’ tabi’in. Seorang yang shaleh dan wara’. Orang seperti beliau bersedih dan menangis ketika Harun al-Rasyid hendak wafat.
Abu Muawiyah ad-Dharir mengatakan, “Tidaklah aku menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan al-Rasyid kecuali beliau mengucapkan, ‘Shalawat untuk junjunganku’. Kemudian aku riwayatkan sebuah hadits kepadanya. (Rasulullah bersabda) ‘Sungguh aku ingin berperang di jalan Allah, kemudian terbunuh. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh lagi’. (mendengar hadits itu) Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu.”
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berandai, berperang di jalan Allah. Kemudian terbunuh. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh lagi. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh kembali.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tamanni, 6713).
Hadits ini menggambarkan tentang pahala jihad dan bagaimana keberanian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wafat di medan perang bukanlah kematian yang ringan. Wafat di medan perang adalah kematian yang memakan waktu, berhadapan dengan sesuatu yang menakutkan, melihat darah terkucur, dan rasa sakit yang tidak sesaat. Tapi beliau berani melakukannya. Dan berharap pahala besar dari amalan jihad.
Mendengar hadits ini, dan semangatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memperjuangkan Islam dan mendapatkan pahalanya, Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu. Anda baru saja membaca hadits tersebut. Bagaimana perasaan Anda? Apakah pada bacaan pertama Anda, Anda merasakan apa yang dirasakan Harun al-Rasyid? Anda mengalami seperti apa yang ia alami? Dari sini, barulah kita bisa membedakan antara cinta kita dengan Rasulullah dan hadits beliau, beda dengan cintanya Harun al-Rasyid kepada Nabi dan haditsnya.
Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asakir dari Ibnu Aliyah, ia berkata, “Harun al-Rasyid menangkap seorang zindiq (yang rusak akidahnya). Ia memerintah agar si zindiq ini dipenggal. Si zindiq ini berkata kepada Harun, “Engkau tidak akan memenggal kepalaku.” “Aku akan membuat orang-orang terhenti dari ulah burukmu”, jawab Harun.
Si Zindiq ini berkata lagi:
فأين أنت من ألف حديث وضعتها على رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كلها ما فيها حرف نطق ب
“Apa yang bisa kau lakukan terhadap 1000 hadits yang telah kupalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Semua hurufnya telah terucapkan.” Ia menakuti Harun, kalau dia mati siapa yang bakal menunjukkan hadits-hadits palsu yang telah beredar itu. Karena dia yang membuat, dia pulalah yang tahu mana ucapan-ucapannya.
Tapi Harun al-Rasyid dtidak menggubris tawarannya. Dengan percaya diri ia menjawab,
فأين أنت يا عدو الله من أبى إسحاق الفزارى وعبد الله بن المبارك ينخلانها فيخرجانها حرفا حرف
“Apakah kau tidak tahu wahai musuh Allah tentang keahlian Abu Ishaq al-Fazari dan Abdullah bin al-Mubarak? Mereka akan menelitinya dan menilainya huruf per huruf.”
Sanjungan Ulama
Para ulama memuji Khalifah Harun al-Rasyid atas keadilannya dan keshalehannya. Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata,
ما من نفس تموت أشد علي موتا من أمير المؤمنين هارون ولوددت أن الله زاد من عمري في عمره
“Tak ada seorang pun yang kematiannya lebih kutangisi dibanding kematian Amirul Mukminin Harun. Aku berandai kalau Allah mengambil jatah usiaku untuk ditambahkan pada usianya.”
Murid-murid Fudhail bin Iyadh berkata, “Kami menganggap bahwa ucapan beliau hanya sanjungan berlebihan terhadap Harun al-Rasyid. Ketika Harun wafat. Kemudian muncullah fitnah. Khalifah al-Makmun menyebarkan pemahaman khalqul quran di tengah masyarakat. Kami pun berkata, ‘Guru kita sangat paham terhadap apa yang ia ucapkan’.”
Mengutip salah satu
ulama terkenal, Ibnu Qayyim al-Jauzi, setidaknya ada 7 (tujuh) tingkatan godaan
setan terhadap manusia.
Pertama,setan mengajak manusia kepada kemusyrikan. Pada
level ini, setan mencoba mengecoh asas keimanan manusia untuk mengingkari Allah
SWT sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa dan Yang Berhak Disembah. Seruan kepada
kemusryikan ini terus mengalami perkembangan dan penyesuaian di setiap masa.
Namun, pada hakikatnya, seruan kemusyrikan ini mengajak manusia untuk
mengingkari Allah SWT, Tuhan Yang Esa, dan Menolak Aturan Nya kemudian membelokkan
keimanan manusia kepada tuhan-tuhan lain (thagut), yang bisa berbentuk uang, kekayaan, Jabatan
tinggi, popularitas dan lain sebagainya.
kedua,melakukan dosa-dosa besar. Setan menipu manusia
yang telah beriman dan beramal shaleh. Tidak masalah bagi setan, jika ada
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, selama mereka melakukan dosa-dosa
besar. Karena, bisa jadi, keimanan dan amal saleh seseorang akan rusak ketika
mereka terbiasa melakukan dosa-dosa besar.
ketiga,melakukan dosa-dosa kecil. Setan terus membujuk
manusia dengan dosa-dosa kecil, memang tidak seberat dosa-dosa besar. Namun,
dosa-dosa kecil yang dilakukan secara rutin dipastikan akan menutupi mata hati
manusia (nurani). Sehingga, manusia yang terbiasa melakukan dosa-dosa kecil
akan kehilangan nurani-nya, hingga kemudian hidayah Allah SWT, tidak akan
pernah menyentuh hati manusia tersebut. Maka, sudah sepatutnya kita menghindari
dosa-dosa kecil, sekecil apapun.
Keempat,seruan kepada khurafat(legenda/cerita bohong) dan bid’ah.
Ketika amal yang dilakukan tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Banyak orang
yang merasa telah menghimpun banyak amal-amal saleh, niatnya sudah benar dalam
rangka beribadah kepada Allah SWT. Namun, karena ilmu yang sedikit dan tidak
mau bertanya kepada alim-ulama, maka terjebaklah manusia-manusia itu kepada
seruan setan, dengan menjalankan khurafat dan bid’ah.
kelima,amal-amal yang melalaikan. Setan terus mencoba
menjerumuskan manusia untuk terkecoh dengan Amal-amal yang
tidak menimbulkan dosa bila diamalkan, namun tidak juga memberikan pahala dan
manfaat bagi yang melakukannya. Dalam tingkatan ini, setan terus mencoba
mempengaruhi manusia agar tidak berbuat kebaikan, tapi sibuk dengan amal
perbuatan yang sama sekali tidak memberi manfaat, sia-sia.
keenam,gagal dalam memilih prioritas amal. Ketika seseorang
sudah memiliki akidah yang lurus, amal yang benar, menjauhkan diri dari
perbuatan dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, bahkan dari sekedar amal yang
sia-sia, maka setan terus menggoda manusia yang beriman dengan menghadirkan
pilihan-pilihan amal kebajikan yang bervariasi nilai-nilai kebaikan dan manfaat
nya, maka setan mencoba menggelincirkan manusia tersebut kepada amal yang nilai
kebaikan dan manfaat nya paling rendah dari semua pilihan amal yang tersedia.
ketujuh,serangan yang bersifat psikologis, bahkanserangan
fisik, adalah level di mana para nabi, rasul, dan para ulama
penerus nabi dan rasul berada. Pada level ini, setan tidak lagi menampakkan
godaan-godaan yang bersifat metafisik. Namun, setan yang telah frustasi ini
dengan usaha yang keras mencoba mengecoh manusia sebagaimana dahulu telah
dirasakan oleh para nabi, rasul, dan para ulama penerus para nabi dan rasul.
Setan di level ini menyamar menjadi manusia yang menyebarkan fitnah-fitnah
kepada orang-orang yang beriman untuk menghentikan ibadah dan amal kebaikannya.
Bahkan, tidak segan, setan-setan tersebut menampakkan diri baik dalam wujud jin
dan manusia, untuk mencelakakan orang-orang yang beriman.
Barangkali, sulit
bagi kita yang notabene manusia-manusia biasa yang tak pernah
luput dari kelalaian untuk menyamai ‘kelas’ sebagaimana para Nabi, Rasul, dan
ulama warasatul
anbiyaa. Namun, tidak semestinya juga kita berputus asa dalam amal
kebaikan. Tidak ada salahnya bagi kita untuk mengup-grade diri dengan
senantiasa meluruskan aqidah, benar dalam amal, selalu terjaga dari dosa-dosa
kecil apalagi dosa-dosa besar, serta sangat menjaga diri dari perkataan dan perbuatan
yang sia-sia. Selalu menyibukkan diri dengan amal-amal kebaikan. Membuat
prioritas amal yang memiliki manfaat terbanyak.
Sampai Ketika itu,
kita menjadi insan yang gemar menabur kebajikan kepada setiap orang di
sekeliling kita, bahkan lingkungan alam tempat kita menetap, menjadi rahmatan lil
‘alamiin.