Pemasaran : Harjasari, Jl. Rulita II RT 03 RW 02, Kecamatan Bogor Selatan - Kota Bogor wa: 0817-0711-072, 0878-2521-0791

Hadiah Nobel 2016 dalam Fisiologi atau Kedokteran


Majelis Nobel di Karolinska Institutet
 hari ini telah memutuskan untuk memberikan penghargaan

Hadiah Nobel 2016 dalam Fisiologi atau Kedokteran

ke

Yoshinori Ohsumi

untuk penemuannya tentang mekanisme autophagy

Ringkasan

Peraih Nobel tahun ini menemukan dan menjelaskan mekanisme yang mendasari autophagy , sebuah proses mendasar untuk mendegradasi dan mendaur ulang komponen seluler.

Kata autophagy berasal dari kata Yunani auto- , yang berarti "diri", dan phagein , yang berarti "makan" Jadi, autophagy menunjukkan "makan sendiri". Konsep ini muncul selama tahun 1960-an, ketika para peneliti pertama kali mengamati bahwa sel dapat menghancurkan isinya sendiri dengan membungkusnya dalam membran, membentuk vesikel seperti karung yang diangkut ke kompartemen daur ulang, yang disebut lisosom,untuk degradasi. Kesulitan dalam mempelajari fenomena ini berarti hanya sedikit yang diketahui sampai, dalam serangkaian eksperimen brilian di awal 1990-an, Yoshinori Ohsumi menggunakan ragi roti untuk mengidentifikasi gen yang penting untuk autophagy. Dia kemudian menjelaskan mekanisme yang mendasari autophagy dalam ragi dan menunjukkan bahwa mesin canggih serupa digunakan dalam sel kita.

Penemuan Ohsumi mengarah pada paradigma baru dalam pemahaman kita tentang bagaimana sel mendaur ulang isinya. Penemuannya membuka jalan untuk memahami pentingnya autophagy dalam banyak proses fisiologis, seperti adaptasi terhadap kelaparan atau respons terhadap infeksi. Mutasi pada gen autophagy dapat menyebabkan penyakit, dan proses autophagic terlibat dalam beberapa kondisi termasuk kanker dan penyakit saraf.


Degradasi – fungsi sentral di semua sel hidup

Pada pertengahan 1950-an para ilmuwan mengamati kompartemen seluler khusus baru, yang disebut organel, yang mengandung enzim yang mencerna protein, karbohidrat, dan lipid. Kompartemen khusus ini disebut sebagai " lisosom ".” dan berfungsi sebagai stasiun kerja untuk degradasi konstituen seluler. Ilmuwan Belgia Christian de Duve dianugerahi Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1974 untuk penemuan lisosom. Pengamatan baru selama tahun 1960-an menunjukkan bahwa sejumlah besar konten seluler, dan bahkan seluruh organel, kadang-kadang dapat ditemukan di dalam lisosom. Oleh karena itu, sel tampaknya memiliki strategi untuk mengirimkan muatan besar ke lisosom. Analisis biokimia dan mikroskopis lebih lanjut mengungkapkan jenis baru vesikel yang mengangkut kargo seluler ke lisosom untuk degradasi (Gambar 1). Christian de Duve, ilmuwan di balik penemuan lisosom, menciptakan istilah autophagy, "makan sendiri", untuk menggambarkan proses ini. Vesikel baru diberi nama autophagosomes .

Autofagosom.

Gambar 1: Sel kita memiliki kompartemen khusus yang berbeda. Lisosom merupakan salah satu kompartemen tersebut dan mengandung enzim untuk pencernaan isi seluler. Jenis vesikel baru yang disebut autophagosome diamati di dalam sel. Saat autophagosome terbentuk, ia menelan isi seluler, seperti protein dan organel yang rusak. Akhirnya, ia menyatu dengan lisosom, di mana isinya terdegradasi menjadi konstituen yang lebih kecil. Proses ini menyediakan sel dengan nutrisi dan blok bangunan untuk pembaruan.

Selama tahun 1970-an dan 1980-an para peneliti berfokus pada penjelasan sistem lain yang digunakan untuk mendegradasi protein, yaitu "proteasome". Dalam bidang penelitian ini Aaron Ciechanover, Avram Hershko dan Irwin Rose dianugerahi Hadiah Nobel Kimia 2004 untuk "penemuan degradasi protein yang dimediasi ubiquitin". Proteasome secara efisien mendegradasi protein satu per satu, tetapi mekanisme ini tidak menjelaskan bagaimana sel menyingkirkan kompleks protein yang lebih besar dan organel yang aus. Mungkinkah proses autophagy menjadi jawabannya dan, jika ya, bagaimana mekanismenya?


Eksperimen yang inovatif

Yoshinori Ohsumi telah aktif di berbagai bidang penelitian, tetapi setelah memulai labnya sendiri pada tahun 1988, ia memfokuskan usahanya pada degradasi protein dalam vakuola., organel yang sesuai dengan lisosom dalam sel manusia. Sel ragi relatif mudah dipelajari dan akibatnya mereka sering digunakan sebagai model untuk sel manusia. Mereka sangat berguna untuk identifikasi gen yang penting dalam jalur seluler yang kompleks. Tapi Ohsumi menghadapi tantangan besar; sel ragi kecil dan struktur dalamnya tidak mudah dibedakan di bawah mikroskop dan dengan demikian dia tidak yakin apakah autophagy ada dalam organisme ini. Ohsumi beralasan bahwa jika dia bisa mengganggu proses degradasi di dalam vakuola saat proses autophagy aktif, maka autophagosomes akan menumpuk di dalam vakuola dan terlihat di bawah mikroskop. Oleh karena itu dia membiakkan ragi bermutasi yang kekurangan enzim degradasi vakuolar dan secara bersamaan merangsang autophagy dengan membuat sel-sel kelaparan. Hasilnya sangat mengejutkan! Dalam beberapa jam, vakuola terisi dengan vesikel kecil yang belum terdegradasi (Gambar 2). Vesikel adalah autophagosomes dan percobaan Ohsumi membuktikan bahwa authophagy ada dalam sel ragi. Tetapi yang lebih penting, dia sekarang memiliki metode untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi gen kunci yang terlibat dalam proses ini. Ini adalah terobosan besar dan Ohsumi menerbitkan hasilnya pada tahun 1992.

Ragi.

Gambar 2: Dalam ragi (panel kiri) kompartemen besar yang disebut vakuola sesuai dengan lisosom dalam sel mamalia. Ohsumi menghasilkan ragi yang kekurangan enzim degradasi vakuolar. Ketika sel-sel ragi ini kelaparan, autofagosom dengan cepat terakumulasi dalam vakuola (panel tengah). Eksperimennya menunjukkan bahwa autophagy ada dalam ragi. Sebagai langkah selanjutnya, Ohsumi mempelajari ribuan mutan ragi (panel kanan) dan mengidentifikasi 15 gen yang penting untuk autophagy.

Gen autophagy ditemukan

Ohsumi sekarang memanfaatkan strain ragi yang direkayasanya di mana autofagosom terakumulasi selama kelaparan. Akumulasi ini seharusnya tidak terjadi jika gen yang penting untuk autophagy dinonaktifkan. Ohsumi mengekspos sel ragi ke bahan kimia yang secara acak memperkenalkan mutasi pada banyak gen, dan kemudian dia menginduksi autophagy. Strateginya berhasil! Dalam waktu satu tahun setelah penemuan autophagy dalam ragi, Ohsumi telah mengidentifikasi gen pertama yang penting untuk autophagy. Dalam rangkaian studi elegan berikutnya, protein yang dikodekan oleh gen-gen ini dicirikan secara fungsional. Hasil menunjukkan bahwa autophagy dikendalikan oleh kaskade protein dan kompleks protein, masing-masing mengatur tahap yang berbeda dari inisiasi dan pembentukan autophagosome (Gambar 3).

Tahapan pembentukan autophagosome

Gambar 3: Ohsumi mempelajari fungsi protein yang dikodekan oleh gen autophagy kunci. Dia menggambarkan bagaimana sinyal stres memulai autophagy dan mekanisme di mana protein dan kompleks protein mempromosikan tahapan pembentukan autophagosome yang berbeda.

Autophagy – mekanisme penting dalam sel kita

Setelah identifikasi mesin untuk autophagy dalam ragi, pertanyaan kunci tetap ada. Apakah ada mekanisme yang sesuai untuk mengontrol proses ini pada organisme lain? Segera menjadi jelas bahwa mekanisme yang hampir identik beroperasi di sel kita sendiri. Alat penelitian yang diperlukan untuk menyelidiki pentingnya autophagy pada manusia sekarang tersedia.

Berkat Ohsumi dan yang lainnya yang mengikuti jejaknya, kita sekarang tahu bahwa autophagy mengontrol fungsi fisiologis penting di mana komponen seluler perlu didegradasi dan didaur ulang. Autophagy dapat dengan cepat menyediakan bahan bakar untuk energi dan blok bangunan untuk pembaruan komponen seluler, dan oleh karena itu penting untuk respons seluler terhadap kelaparan dan jenis stres lainnya. Setelah infeksi, autophagy dapat menghilangkan bakteri dan virus intraseluler yang menyerang. Autophagy berkontribusi pada perkembangan embrio dan diferensiasi sel. Sel juga menggunakan autophagy untuk menghilangkan protein dan organel yang rusak, mekanisme kontrol kualitas yang sangat penting untuk menangkal konsekuensi negatif dari penuaan.

Autophagy yang terganggu telah dikaitkan dengan penyakit Parkinson, diabetes tipe 2 dan gangguan lain yang muncul pada orang tua. Mutasi pada gen autophagy dapat menyebabkan penyakit genetik. Gangguan pada mesin autophagic juga telah dikaitkan dengan kanker. Penelitian intensif saat ini sedang berlangsung untuk mengembangkan obat yang dapat menargetkan autophagy pada berbagai penyakit.

Autophagy telah dikenal selama lebih dari 50 tahun tetapi kepentingan mendasarnya dalam fisiologi dan kedokteran baru diakui setelah penelitian perubahan paradigma Yoshinori Ohsumi pada tahun 1990-an. Untuk penemuannya, ia dianugerahi Hadiah Nobel tahun ini dalam bidang fisiologi atau kedokteran.


Publikasi kunci

Takeshige, K., Baba, M., Tsuboi, S., Noda, T. dan Ohsumi, Y. (1992). Autophagy dalam ragi ditunjukkan dengan mutan yang kekurangan proteinase dan kondisi untuk induksinya. Jurnal Biologi Sel 119, 301-311

Tsukada, M. dan Ohsumi, Y. (1993). Isolasi dan karakterisasi mutan cacat autophagy dari Saccharomyces cervisiae . Surat FEBS 333, 169-174

Mizushima, N., Noda, T., Yoshimori, T., Tanaka, Y., Ishii, T., George, MD, Klionsky, DJ, Ohsumi, M. dan Ohsumi, Y. (1998). Sistem konjugasi protein penting untuk autophagy. Alam 395, 395-398

Ichimura, Y., Kirisako T., Takao, T., Satomi, Y., Shimonishi, Y., Ishihara, N., Mizushima, N., Tanida, I., Kominami, E., Ohsumi, M., Noda , T. dan Ohsumi, Y. (2000). Sistem mirip ubiquitin memediasi lipidasi protein. Alam, 408, 488-492


Yoshinori Ohsumi lahir 1945 di Fukuoka, Jepang. Ia menerima gelar Ph.D. dari Universitas Tokyo pada tahun 1974. Setelah menghabiskan tiga tahun di Universitas Rockefeller, New York, AS, ia kembali ke Universitas Tokyo di mana ia mendirikan kelompok penelitiannya pada tahun 1988. Sejak tahun 2009 ia menjadi profesor di Institut Teknologi Tokyo.

Majelis Nobel, yang terdiri dari 50 profesor di Karolinska Institutet, menganugerahkan Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran. Komite Nobelnya mengevaluasi nominasi. Sejak 1901 Hadiah Nobel telah diberikan kepada para ilmuwan yang telah membuat penemuan-penemuan paling penting untuk kepentingan umat manusia.

Hadiah Nobel® adalah merek dagang terdaftar dari Yayasan Nobel


PROSES AUTOPHAGI & AUTOLISIS DALAM PUASA


Konsep autophagi adalah membuat tubuh lapar.

Ketika tubuh seseorang lapar, maka sel-sel tubuhnya pun ikut lapar.

Sel-sel yang lapar ini akan memakan sel-sel dirinya yang sudah tidak beguna lagi atau sel-sel yang telah rusak atau sel mati, agar tidak menjadi sampah dalam tubuh.

Dengan demikian sel-sel mati ini tidak akan menghasilkan sesuatu yang bisa membahayakan tubuh...

Jadi, tubuh orang yang berpuasa akan membersihkan dirinya sendiri!!!..


Ilmuwan bernama Yoshinori Ohsumi ini telah membuktikan dan menemukan bahwa ketika seseorang lapar (PUASA) dalam jangka waktu tidak kurang dari 8 jam dan tidak lebih dari 16 jam, maka tubuh akan membentuk protein khusus di seluruh tubuh yang disebut autophagisom...


Autophagisom tersebut bisa dianalogkan sebagai suatu sapu raksasa yang mengumpulkan sel-sel mati yang tidak berguna dan bisa  membahayakan tubuh untuk dikeluarkan...


Sel-sel mati ini banyak dihasilkan oleh sel kanker dan sel berbentuk kuman (virus atau bakteri) penyebab penyakit...


Protein autophagisom tersebut menghancurkan dan memakan sel-sel berbahaya tersebut, lalu mengeluarkannya...


Sebagai kesimpulan dari riset ini, dokter Yoshinori Ohsumi menyarankan agar seseorang bisa menjalani praktek melaparkan diri (PUASA) dua atau tiga kali dalam seminggu.


Penelitian ini telah memenangkan penghargaan NOBEL KEDOKTERAN kepada dokter Yoshinori Ohsumi atas riset yang ia namakan AUTOPHAGI.


Bagi Muslim, disunnahkan puasa Senin dan Kamis, dan diwajibkan bagi yang  berpuasa selama 1 bulan di Bulan Ramadhan...


Artinya bahwa konsep AUTOPHAGI sesungguhnya sudah disarankan sejak 15 abad yang lalu oleh Rasulullah SAW...

Tinggal  mempraktekkannya dengan tata cara puasa yang benar...


 Selain hal di atas tadi itu, juga terjadi AUTOLISIS


Jangan kaget ya.. pada jam 12 s/d 18 kita akan merasa lemas.


Bersyukurlah..

Karena berarti akan dimulai satu proses yang sangat bermanfaat untuk tubuh kita.


Proses itu adalah AUTOLISIS.


Autolisis adalah proses pembuangan sel-sel yang mati atau rusak di dalam tubuh kita.


Bayangkan..

Kalau kita lagi gak puasa..

Organ pencernaan kita hampir ga pernah berhenti bekerja. 

Setiap kita makan, butuh +-8 jam organ pencernaan kita bekerja. 


Jam 7 sarapan pagi, maka jam 15 organ baru selesai bekerja, eh jam 12 kita sudah makan lagi. 


Dari jam 12 harusnya selesai jam 20, kita makan lagi jam 19. Belum lagi kalo jam 23nya ngemil/makan mie tektek/nasi goreng.


Astagfirullah..


Kalo tubuh kita bisa ngomong..

mungkin dia akan bilang..

Boss saya resign aja yaa


Nah..

Pas kita puasa..

Sahur jam 4, organ bekerja sampai jam 12.


Jam 12 s/d jam 18, organ kita nganggur gak ada kerjaan. 6 jam lhoo..

Lumayan tuh.


Ibarat ibu-ibu di rumah..

Klo lagi gak ada kerjaan, kan suka beres-beres rumah, rapi-rapi, bersih-bersih, buang barang-barang yang gak kepake.


Nah sama.

organ kita klo lagi gak ada kerjaan, mereka akan melakukan bersih-bersih tubuh,  inilah Autolisis.


Keren kan..


Inilah kenapa puasa itu sehat, bahkan in syaa Allah bisa ngobatin banyak penyakit. Maag, diabet, ginjal, bahkan kanker.


Makin banyak puasa.

Makin bersih tubuh kita..

Makin sehat kita.

In syaa Allah 


Maka bahagialah kita diperintahkan puasa.


Selamat berpuasa 

Semoga makin cinta menjalankan puasa

sehat selalu.

Aamiin 🙂🙏👍


Share ke yang lain jika bermanfaat


Artikel lengkap versi original nya cek di bawah ini


https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/2016/press-release/

TINGKATAN NAFSU MANUSIA

 

3 Tingkatan Manusia Dalam Melawan Hawa Nafsu, Imam Ghazali

Selasa 17 Nov 2020 23:14 WIB




REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Manusia disuruh melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Usaha manusia dalam perjuangan melawan hawa nafsu ini tentu bertingkat-tingkat, tergantung pada kemampuan dan kekuatan imannya. 

Dalam buku Mizan al-'Amal, Imam Ghazali menyebutkan tiga tingkatan manusia dalam masalah ini.

Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. Dengan begitu, ia sungguh telah mempertuhankan hawa nafsunya seperti dimaksud ayat ini:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ 

''Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.'' (Al-Jatsiyah: 23).

Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada suatu kali ia menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid.

Dikatakan demikian, karena ia sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sesuai perintah Nabi SAW, ''Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.'' Ini merupakan tingkatan manusia yang tinggi di bawah para nabi dan wali-wali Allah.

Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. Menurut Ghazali, ini merupakan tingkatan para nabi dan wali-wali Allah. 

Dalam perjuangan melawan hawa nafsu, menurut Ghazali, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus, supaya ia jangan tertipu (ghurur). Kata Ghazali, banyak orang merasa telah bekerja dan berjuang untuk agama, nusa, dan bangsa, padahal sesungguhnya ia bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan untuk memuaskan egonya.

Sikap waspada juga diperlukan karena sering timbul kerancuan (iltibas) antara perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). Berbeda dengan nafsu, akal secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan.

Dalam situasi demikian, Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan. Alasannya, kebaikan pada umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Kata Nabi Muhammad SAW: 

حُجِبَتِ الجنَّةُ بالمكَارِهِ و حُجِبتِ النَّارُ بالشَّهواتِ   

''Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.

IMAM GHAZALI (Cara Melawan Hawa Nafsu)

 

3 Cara Meredam Nafsu Syahwat Menurut Imam Al-Ghazali

Rusman Siregar

loading...

Hawa nafsu adalah aspek ruhaniyah yang mempengaruhi moral seseorang. Nafsu memiliki tiga macam yaitu nafsu ammarah, nafsu lawwamah dan nafsu muthmainnah. Sedangkan hawa artinya apa yang disukai nafsu (jiwa).

Hakikat syahwat adalah keinginan yang cenderung kepada sesuatu. Memenuhi hawa nafsu sebenarnya tidak dicela selama ia ditempatkan di jalan yang benar seperti bersenggama dengan istri.

Namun, hawa nafsu manusia cenderung menyebabkan seorang menjadi dengki, marah, benci, suka dan sifat tercela lainnya. Adapun nafsu syahwat sering membawa manusia hingga melampaui batas dan melanggar syariat Allah.

Bagaimana cara mengendalikan nafsu syahwat ini? Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (1058-1111) dalam kitab populernya Ihya 'Ulumuddin memberikan tips untuk melemahkan nafsu syahwat.


3 Cara untuk Melemahkan Nafsu Syahwat:
1. Memutuskan keterikatan.
Kita terikat kepada benda yang menguatkan nafsu syahwat. Maka, tidak boleh tidak, kita harus belajar memutuskan keterikatan itu. Misalnya, keterikatan kepada makanan diputus dengan berpuasa.

2. Memadamkan api.

Sesungguhnya nafsu syahwat itu dapat berkobar dengan pandangan kepada hal-hal yang dapat memancing nafsu syahwat. Rasulullah SAW bersabda, "Pandangan itu adalah salah satu panah beracun dari panah-panah iblis." Menjaga pandangan dari hal-hal tercela, menjaga telinga dari ucapan-ucapan kotor, menjaga langkah kaki dari tempat-tempat yang tidak pantas, menjaga pikiran dari bacaan-bacaan yang tidak bermanfaat, merupakan langkah-langkah memadamkan api nafsu syahwat.

3. Mencari jalan yang halal.
Setiap manusia tentu memiliki kebutuhan jasmaniah yang harus dipenuhi, baik makanan, pakaian, maupun pasangan. Maka semua itu dapat dipenuhi dengan menjaga diri dengan syari’at yang kuat, yakni mencari jalan yang halal atas setiap kebutuhan hidup.

​Inilah tiga jalan yang mampu melemahkan tentara nafsu syahwat. Langkah pertama seperti halnya memutuskan makanan bagi anjing yang ganas supaya ia lemah, lalu hilanglah kekuatannya. Langkah kedua mencegah anjing yang ganas itu agar tidak mencium bau amis daging dan darah, sehingga perut sang hewan tidak tergerak lantaran melihat dan mencium makanan kesukaannya. Langkah ketiga menghias diri dengan sesuatu yang sedikit, mencukupkan diri dengan yang halal, dari kebutuhan tabiat manusia.

Adapun jalan untuk menguatkan agama:

1. Menuntut ilmu.
Ilmu adalah cahaya. Cahaya yang memadamkan kegelapan dan menerangi hati. Mengetahui kelebihan dan keutamaan sabar bagi kehidupan di dunia dan akhirat, merupakan salah satu ilmu yang bermanfaat dan menguatkan agama. Dengan pengetahuan tentang sabar, seseorang menjadi paham makna musibah.

2. Belajar mujahadah.
Hendaknya kita membiasakan diri berperang melawan pembangkit hawa nafsu secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, hingga ia memperoleh lezatnya kemenangan sebuah pertempuran. Dengan demikian muncul keberanian dan kuatnya tekad ketika berjuang melawan hawa nafsu tersebut.

MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

oleh : Yaya Rosiahhayati


Berbicara tentang manusia berarti kita berbicara tentang dan pada diri kita sendiri makhluk yang paling unik di bumi ini. Banyak di antara ciptaan Allah yang telah disampaikan lewat wahyu yaitu kitab suci. Manusia merupakan makhluk yang paling istimewa dibandingkan dengan makhluk yang lain. Manusia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Kelebihan itu adalah dikaruniainya akal. Dengan dikarunia akal, manusia dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola alam semesta ciptaan Allah adalah sebagai amanah. Selain itu manusia juga dilengakapi unsur lain yaitu qolbu (hati). Dengan qolbu
 manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran Ilahi secara spiritual.
Secara etimologi, menurut Raghib Ashfahaniy akal memiliki arti al-Imsak (menahan), ar-Ribath (ikatan), al-Hajr (menahan), an-Nahi (malarang), dan al-Man’u (mencegah). Sedangkan secara terminologi, akal adalah segala potensi yang ada pada diri manusia yang disiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan, mampu menahan dan mengikat hawa nafsu. Akal memiliki dua makna yaitu : 1) Akal jasmani, salah satu oragan tubuh yang lazim disebut dengan otak. 2) akal ruhani, cahaya nurani yang dipersiapkan oleh Allah SWT yang berpotensi untuk memperoleh pengetahuan dan kognisi melalui proses membaca dan berfikir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akal merupakan daya pikir manusia untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat rasional dan dapat menentukan eksistensi manusia.
Selain akal manusia juga dibekali akan qalb (hati), secara bahasa qalb berarti bolak-balik, dan ini menjadi karakteristik dari hati itu sendiri yang memiliki sifat tidak konsisten dan perlu adanya pengelolahan tersendiri dengan bantuan nur ilahi. Al-Ghazali melihat pengertian qalb dari dua aspek, yaitu aspek jasmani dan aspek ruhani. Qalb jasmani adalah organ tubuh yang berbentuk seperti jantung pisang yang terletak di dalam dada sebelah kiri. Sedangkan qalb ruhani adalah sesuatu yang bersifat halus, ruhaniah, dan ketuhanan juga memiliki potensi afektif, iman, dzikir, taqwa.
Al-qur’an menggunakan term qalb dan fu’ad untuk menyebut hati manusia ketika dalam keadaan ketentraman dan keyakinan. Sedangkan penggunaan kata shadr yang berarti dada atau depan untuk menyebutkan keadaan suasana hati dan jiwa sebagai satu kesatuan psikologis dalam kondisi yang lapang dan tak terbebani maupun sempit dan sedih. Tetapi al-Qur’an menggunakan term qalb untuk menyebutkan akal ketika qalb fi shadr dalam keadaan buta yang tidak mampu memahami realitas dan nilai kehidupan.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain, dengan memiliki potensi akal, qolbu dan potensi-potensi lain untuk digunakan sebagai modal mengembangkan kehidupan.
Di dalam al-Quran terdapat tiga istilah kunci (key term) yang meskipun mengacu pada makna pokok manusia, tetapi memiliki makna signifikan yang berbeda-beda. Ketiga istilah kunci itu adalah BasyarInsan, dan al-Nas.

1. Basyar
Kata basyar disebut dalam al-Quran 35 kali dikaitkan dengan manusia dan 25 kali dihubungkan dengan nabi-rasul. Kata basyar pada keseluruhan ayat tersebut memberikan referensi kepada manusia sebagai makhluk biologis. Salah satunya pada surah Yusuf ayat 31

فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيم

 “Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepadanya (keelokan rupanya) dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia (basyar). Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”. (Q.S.Yusuf : 31)
Ayat ini menceritakan wanita-wanita pembesar Mesir yang diundang Zulaikha dalam suatu pertemuan yang takjub ketika melihat ketampanan Yusuf as. Konteks ayat ini tidak memandang Yusuf as dari segi moralitas atau intelektualitasnya, melainkan pada perawakannya yang tampan dan penampilannya yang mempesona yang tidak lain adalah masalah biologis.
Pada ayat lain juga manusia disebut dengan kata basyar dalam konteks sebagai makhluk biologis yaitu pada ayat yang menceritakan jawaban Maryam (perawan) kepada malaikat yang datang padanya membawa pesan Tuhan bahwa ia akan dikaruniai seorang anak. Allah SWT berfirman dalam surat maryam ali Imran ayat 47

قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَر

 “Maryam berkata: Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak padahal aku tidak pernah disentuh manusia (basyar)”. (Q.S.Ali Imran : 47)
Maryam berkata demikian sebab dia tahu bahwa yang dapat menyentuh (hubungan seksual) itu hanya manusia dalam arti makhluk biologis, dan anak adalah buah dari hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan . Nalar Maryam tidak menerima, bagaimana mungkin dia akan punya anak padahal dia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki.
Penolakan orang-orang kafir untuk beriman, juga karena pandangan mereka terhadap seorang rasul yang hanya pada sisi biologisnya saja. Yakni  sebagai manusia yang sama seperti mereka yang makan, minum, jalan-jalan di pasar, dan melakukan aktifitas lainnya. Mereka tidak mempertimbangkan aspek lain dari seorang rasul seperti kapasitas, moralitas, kredibilitas kepribadiannya, dan akseptabilitas di mata umatnya. Karena itu Allah SWT menyuruh Rasulullah SAW untuk menegaskan bahwa secara biologis ia memang seperti manusia biasa, tetapi memiliki perbedaan dari yang lain yaitu penunjukan langsung dari Tuhan untuk menyampaikan risalah-Nya. Dan dari sisi inilah Rasulullah menjadi manusia luar biasa.
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَي

 “Katakanlah (Muhammad kepada mereka bahwa) aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu. Hanya saja aku diberi wahyu”.  (Q.S.Al-Kahfi : 110)

Beberapa ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat ketubuhan (biologis) manusia yang mempunyai bentuk atau postur tubuh, mengalami pertumbuhan dan perkembangan jasmani, makan, minum, melakukan hubungan seksual, bercinta, berjalan-jalan di pasar, dan lain-lain. Dengan kata lain, basyar dipakai untuk menunjuk dimensi alamiah yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya. Fitrah manusia memang bergerak dan dinamis untuk memenuhi aspek-aspek kebutuhan biologis ini Allah SWT memberikan aturan syariah yang benar agar manusia senantiasa mendapat ridha Allah dan menjadi manusia yang sempurna (insan kamil).

2. Al-Insan
Kata al-insan disebut sebanyak 65 kali dalam al-Quran. Hampir semua ayat yang menyebut manusia dengan kata insan, konteksnya selalu menampilkan manusia sebagai makhluk istimewa, secara moral maupun spiritual. Keistimewaan  itu tidak dimiliki oleh makhluk lain. Jalaludin Rahmat memberi penjabaran al-insan secara luas pada tiga kategori. Pertama, al-insan dihubungkan dengan keistimewaan manusia sebagai khalifah dan pemikul amanah. Kedua, al-insan dikaitkan dengan predisposisi negatif yang inheren dan laten pada diri manusia. Ketiga, al-insan disebut dalam hubungannya dengan proses penciptaan manusia. Kecuali kategori ketiga, semua konteks al-insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual. Kategori pertama dapat difahami melalui empat penjelasan sebagai berikut :
1.      Manusia dipandang sebagai makhluk unggulan atau puncak penciptaan Tuhan. Keunggulannya terletak pada wujud kejadiannya sebagai makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan. Manusia juga disebut sebagai makhluk yang dipilih Tuhan untuk mengemban tugas kekhalifahan di muka bumi.
2.       Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dipercaya Tuhan untuk mengemban amanah, suatu beban sekaligus tanggung jawabnya sebagai makhluk yang dipercaya dan diberi mandat untuk mengelola bumi. Menurut Fazlurrahman amanah yang dimaksud terkait dengan fungsi kreatif manusia untuk menemukan hukum alam, menguasainya (dalam bahasa al-Quran mengetahui nama-nama semua benda), dan kemudian menggunakannya dengan insiatif moral untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih baik. Sedangkan menurut Thabathaba’i amanah dimaknai sebagai predisposisi positif (isti’dad) untuk beriman dan mentaati Allah. Dengan kata lain manusia didisposisikan sebagai pemikul al-wilayah al-Ilahiyah. Amanah inilah yang dalam ayat-ayat lain disebut sebagai perjanjian primordial atau perenial. Secara metaforis perjanjian itu digambarkan dalam al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belulang) anak cucu Adam keturunan mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman) : Bukankah Aku ini Tuhanmu?. Kami bersaksi”. (Q.S.al-A’raf : 172)
3.      Merupakan konsekuensi dari tugas berat sebagai khalifah dan pemikul amanah, manusia dibekali dengan akal kreatif yang melahirkan nalar kreatif sehingga manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena itu berkali-kali kata al-insan dihubungkan dengan perintah melakukan nadzar (pengamatan, perenungan, pemikiran, analisa) dalam rangka menunjukkan  kualitas pemikiran rasional dan kesadaran khusus yang dimilikinya. Tugas kekhalifahan dan amanah juga membawa konsekuensi bahwa al-insan dibebani atau dihubungkan dengan konsep tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Manusia diwasiatkan agar berbuat baik karena setiap amal perbuatannya dicatat dengan cermat dan mendapat balasan setimpal. Dan dalam rangka ini, manusia diingatkan dengan sejumlah tantangan karena insanlah yang dimusuhi syetan dan ditentukan nasibnya di hari kiamat.
4.      Dalam mengabdi kepada Allah manusia (al-insan) sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan kondisi psikologisnya. Jika ditimpa musibah ia selalu menyebut nama Allah. Sebaliknya jika mendapat keberuntungan dan kesuksesan hidup cenderung sombong, takabbur, dan musyrik.

Kategori kedua al-insan dikaitkan dengan predisposisi negatif pada dirinya, dijelaskan dalam al-Quran bahwa manusia itu cenderung berbuat zalim dan kufur, tergesa-gesa, bakhil, bodoh, banyak membantah dan suka berdebat tentang hal-hal yang sepele sekalipun, resah gelisah dan enggan membantu orang lain, ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita, ingkar dan enggan berterima kasih kepada Tuhan, suka berbuat dosa dan meragukan hari akhirat.
Sifat-sifat manusia pada pada kategori kedua ini bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama, memberi kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang paradoksal, yang berjuang mengatasi konflik dan kekuatan yang saling bertentangan ; tarik menarik antara mengikuti fitrah (memikul amanah dan menjadi khalifah) dan mengikuti nafsu negatif dan merusak. Kedua kekuatan itu digambarkan dalam asal usul kejadian manusia yang dalam bahasa Yusuf Qardawi baina qabdhat al-tin wa nafkhat al-ruh.

3. An-Nas
Konsep an-Nas mengacu pada manusia sebagi makhluk sosial. Manusia dalam arti al-nas paling banyak disebut al-Quran yaitu sebanyak 240 kali. Salah satunya adalah :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Wahai manusia sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal”. (Q.S.al-Hujurat : 13)
Menariknya dalam mengungkapkan manusia sebagai makhluk sosial, al-Quran tidak pernah melakukan generalisasi, melainkan ditunjukkan dengan dua model pengungkapan :
  1. Dengan menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan disertai karakteristik masing-masing yang berbeda satu sama lain. Ayat-ayatnya biasanya menggunakan ungkapan wa min al-nas (dan diantara manusia). Jika diperhatikan ayat-ayat yang menggunakan ungkapan ini ditemukan petunjuk bahwa ada kelompok manusia (tidak seluruhnya) yang mengaku beriman padahal sesungguhnya tidak beriman, ada sebagian manusia mengambil sesembahan selain Allah. Juga didapat informasi bahwa manusia secara sosial cenderung memikirkan kehidupan dunia, berdebat dengan Allah tanpa ilmu, petunjuk dan kitab Allah, yang menyembah Allah dengan iman yang lemah.
  2. Dengan mengelompokkan manusia berdasarkan mayoritas yang umumnya menggunakan ungkapan aktsaran-nas (sebagian besar manusia). Memperhatikan ungkapan ini ditemukan petunjuk dari al-Quran bahwa sebagian besar (mayoritas) manusia mempunyai kualitas rendah, dari sisi ilmu maupun iman. Hal ini dapat dilihat dari ayat-ayatnya yang menyatakan bahwa kebanyakan manusia tidak berilmu, tidak bersyukur, tidak beriman, fasiq, melalaikan ayat-ayat Allah, kufur, dan harus menanggung azab. Kesimpulan itu dipertegas dengan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa sangat sedikit kelompok manusia yang beriman, yang berilmu dan dapat mengambil pelajaran, yang mau bersyukur atas nikmat Allah.
Demikian banyaknya penyebutan kata al-nas dalam al-Quran – jika dikaitkan dengan al-Quran sebagai petunjuk – menunjukkan bahwa sebagian besar bimbingan Tuhan  diperuntukkan bagi manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai contoh adalah masalah perkawinan. Dalam al-Quran Tuhan tidak mengatur tata cara hubungan seksual, karena sebagai makhluk biologis semua manusia betapapun primitifnya bisa melakukannya. Justru yang dipandang perlu untuk diatur Tuhan adalah hubungan sosial pasca perkawinan meliputi hak, kewajiban, tanggung jawab suami istri dalam rumah tangga dan hubungan yang terjadi setelah berkeluarga mencakup pendidikan anak, kekerabatan, warisan dan masalah yang berkaitan dengan kekayaan. Perlunya pengaturan karena pada aspek-aspek sosial manusia sering kelewat batas dan tak terkendali. 

PUISI SENANDUNG UNTUK AYAH

SENANDUNG UNTUK AYAH

Oleh : G. Sukaton

 


Akhirnya engkau pergi juga

Menyusuri tepi malam menyusul belahan jiwa

Yang tentu menunggu mu di tepi masa tak terpeta

Ku antar engkau dengan dzikir lirih dan untaian doa

Ma’assalaamah fii amaanih wahai ayahanda

 

Sosokmu telah mewarnai setiap relung di beranda jiwaku

Sejatinya engkau adalah pengantin yang segera berbulan madu

Meniti kembali gugusan waktu-waktu yang tertinggal dimasa lalu

Ya Rahim, pertemukan lah kembali ayahanda dengan ibu di dalam di telaga Mu

Seperti di bumi Mu, dahulu mereka pertama kali bertemu

 

Berikan ampunan Mu ya Ghofur sesudah maut menjemput,

selamatkan dari gejolak jahanam yang gelapnya bagai malam yang pekat

mudahkan hisab nya ketika segala amal Engkau hitung dengan cepat.

Ya Rahman, rahmatilah, bebaskan dan lepaskanlah ayahanda dengan selamat

Muliakanlah dia dan  lapangkan kuburnya dari adzab yang berat.

 

Luaskan jalan masuk menuju Mu, Sucikan dia dengan air jernih menyejukan,

bersihkan dia dari segala alfa menjadi seputih kafan,

bersihkan dari segala kotoran dunia yang mungkin terbawa karena kelalaian,

gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik dikeabadian,

keluarga yang lebih baik, dari yang kini dia tinggalkan,

 

Gembirakan  ayahanda dengan senyum ibunda yang pernah menemaninya dengan sabar

di didalam roudhatul jannah dimana dibawahnya sungai abadi mengalir

lindungilah dia dari pedihnya adzab serta fitnah kubur

jauhkanlah ayahanda dari lautan huthomah yang membakar

kabulkanlah ya A’zizul Ghoffar

 

 

Harjasari, 14 Juni 2021

Sholawat Syahdu lama

Ya Allah dengan fadhilah dan washilah sholawat ini, kabulkan lah doa-doa dan harapan ku serta mudahkan lah untuk menggapai nya, Aamiin


 

PONDOK PESANTREN TELAGA KAUTSAR: DONASI

PONDOK PESANTREN TELAGA KAUTSAR: DONASI: AKTIFITAS MAJELIS : A. DAUROH :                                         B. KAJIAN UMUM :                1. Ulama                            ...

Ramadhan


 

SMARTER

Mimpi besar insya Allah dapat terwujud bila memenuhi konsep SMARTER Beberapa orang menganggap bahwa smart disamakan dengan istilah KPI (Key ...